Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Sejarah Kampung Simo, Boyolali

Mukti Abdul Matsani
01 Nov 2018 · 2" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Sejarah Kampung Simo, Boyolali
Sejarah kampung Simo tidak lepas dari legenda Banyuurip. Lokasinya dua kampung ini yang bertetangga, menjadikan cerita legenda ini akan mengalir.

Namun Saya perlu mengingatkan kembali kisah legenda Banyuurip yang terpenggal kemarin. untuk kemudian menuju barat di Simo.

Kembali cerita perjalanan Raden Situbondo yang pembuka hutan kawasan Kupang. suatu saat daerah ini ditemukan banyak kulit kerang alias kupang yang menggunung yang dijuluki Kerajaan Kupang, nama ini belakangan disederhanakan menjadi Kupang Kerajan.

Suatu saat, Situbondo bertemu Joko Jumput dalam sebuah pengembaraan di kawasan ini. Terjadilah perkelahian yang melelahkan diantara keduanya. Situbondo kemudian dapat dikalahkan. Raden yang bernama asli Pengeran Aryo Gajah Situbondo itu ditemukan sekarat dan mencapai sebuah daerah bernama Kedung Gempol.

Karena bisikan gaib, Raden Situbondo meminum air kali yang mengalir ke kedung alias waduk daerah ini. Situbondo akhirnya tidak jadi meninggal dan kelak kawasan ini dinamakan Banyuurip atau air kehidupan.

Inilah kisah rakyat terpopuler diantara puluhan cerita rakyat yang besar di Surabaya. “Di lokasi batu inilah konon tempat Kedung Gempol itu berada. Batu ini menjadi punden Banyuurip dan lambang kemakmuran,” terang hadi Suroto, warga Banyuurip wetan di lahan puskesmas banyuurip.

Kisah Raden Situbondo masih berlanjut dengan menyusuri sungai Banyurip menuju barat. Ketika dirinya mulai berjalan kira-kira tiga kilometer dari Kedung Gempol, Situbondo bertemu singa jadi-jadian dari jenis jin bernama trung.

Singa itu kemudian berhasil dihalau. Situbondo memesankan warga agar kelak kawasan ini dinamakan Simo Katrungan alias singa dari jin trung.

Perjalanan menuju barat, semakin tidak aman, dia menemukan banyak singa. Namun belakangan singa tersebut justru kaget bertemu Situbondo. Ulah singa yang lari terbirit-birit itu disaksikan banyak warga setempat. Mereka menjuluki daerah yang singanya lari terbirit-birit itu dengan nama Simo Kwagean. Karena di dalam bahas Jawa lawas dua kata itru artinya Singa lari terbirit-birit.

Tidak jelas akhirnya, Raden Kusuma Ning Ayu Probowati, menikah dengan siapa, agaknya fantasi penduduk setempat membuat cerita versinya sendiri sendiri. Yang disepekati adalah upacara sederhana sambil membuka hutan terakhir di tanah paling selatan Surabaya yang bernama Wonokromo alias hutan perkawinan.

Kekuatan kisah singa pengganggu Situbondo ini sempat dihadirkan oleh warga simo di era 1990-an dengan membangun patung singa di setiap mulut gang. Di Banyurip penanda kisah kampungnya tidak hanya batu di awal tulisan ini, namun juga sungai ‘kehidupan’ yang mampu menghidupkan tokoh sekarat.

Namun sekarang jangan coba-coba anda meminum air Sungai Banyuurip, karena orang hidup malah bisa sekarat.

Tags: #Simo

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Latif Ghufron
6 tahun lalu • 2" baca

Wisatahati Soloraya Gratiskan Makanan di Warung Untuk Sahur

SOLO – Wisatahati Soloraya kembali mengadakan program berbagi makan sahur bersama. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini berbagi makan sahur dilakukan di Warung Sahur yang terletak di jalan Sutowijoyo  Penumping, Laweyan. Kegiatan berlangsung selama 3 hari mulai hari Jumat-Minggu, 30 April – 2 Mei 2021. Warung mulai dibuka pukul 03.15 WIB dini hari.  Kegiatan ini […]

0 0
ishanifa nw
6 tahun lalu • 2" baca

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi COVID-19 Universitas Sebelas Maret di Desa Karangan

“Upaya Preventif Menghadapi Pandemi COVID-19 Melalui Program Penggiatan Kesadaran dan Pemahaman Kesehatan Mayarakat”   Untuk mewujudkan tri dharma perguruan tinggi yang diimplementasikan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), maka dilaksanakan program kerja KKN Rekognisi COVID-19 UNS yang berlokasi di Desa Karangan RT 02 RW 12 Begajah, Sukoharjo, Kab. Sukoharjo dengan tema “Supporting Pemahaman Masyarakat Terhadap COVID-19″. KKN […]

0 0
Ardhan Kurniawan
6 tahun lalu • 2" baca

Pelaksanaan KKN Mahasiswa UNS di Dusun Geneng sebagai Bentuk Pengabdian di Masa Pandemi

WONOGIRI – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta jurusan S1 Manajemen, Ardhan Kurniawan, melakukan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) dengan tema COVID-19. Kegiatan KKN tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena dilakukan secara individu dalam bentuk rekognisi. Program rekognisi ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat ikut berperan dalam penanggulangan pandemi terhadap masyarakat sekitar. Kemudian penilaian mata kuliah akan disetarakan […]

0 0
ira lianasari
7 tahun lalu • 2" baca

Manfaatkan Limbah,Tim PKM-M UNIVET Ubah Kulit Jagung menjadi Kerajinan Bunga kreatif

Tim PKM-M COSFLOW Univet Bantara Sukoharjo telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Gedong, Ngadirojo, Wonogiri pada 4 mei 2019. Kegiatan pelatihan yang dilakukan berupa pemanfaatan limbah kulit jagung menjadi kerajinan bunga yang bernilai jual.Kegiatan pelatihan yang dilakukan meliputi tahap pemilihan limbah kulit jagung , pewarnaan, penjemuran, penyetrikaan. Kemudian dilanjutkan pembimbingan langsung langkah-langkah pembuatan bunga […]

0 0
novianwely
8 tahun lalu • 2" baca

Dosen Univet Bantara Sukoharjo Laksanakan Program Kemitraan kepada Masyarakat di Desa Karang Tengah Wonogiri

Pasca pengumuman program hibah Program Kemitraan kepada Masyarakat (PkM) DRPM Kemenristekdikti pada bulan februari 2019, tim PkM Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo (Univet Bantara) yang berkolaborasi masyarakat desa Karangtengah Wonogiri melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mengambil tema inovasi, pengembangan produk dan pemasaran daun janggelan. Tim PkM yang diketuai oleh Purwanto, SE. MM. (Dosen Prodi […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan