Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Ceritaku sebagai Siswa Jurusan Tata Kecantikan (Vina Dwi Pangesti / SMK Negeri 3 Klaten)

30 Mar 2024 · 4" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Menjadi bagian dari salah satu siswa di Sekolah Menengah Kejuruan bidang Pariwisata jurusan Tata Kecantikan dan Rambut merupakan satu keberuntungan namun banyak tantangan.

Di zaman yang serba modern ini. Kecantikan menjadi hal yang sangat diperhatikan untuk kaum Perempuan. Berbagai upaya dilakukan agar tampil cantik dan menarik. Dengan demikina, mereka akan lebih percaya diri berinteraksi dalam komunitasnya. 

Atas perkembangan trend tersebut, saya memutuskan untuk menempuh Pendidikan di SMK Negeri 3 Klaten jurusan Tata Kecantikan dan Rambut. Menurut saya dan atas dukungan keluarga belajar Tata Kecantikan dapat menjadi bekal berwirausaha.

  Sejak SMP saya memang sudah memikirkan, ketika lulus nanti saya akan memilih jurusan kecantikan karena saya ingin menjadi makeup artist profesional di masa depan. Saya memang memiliki ketertarikan dan merasa memiliki passion di bidang tata rias lebih tepatnya di bagian rambut seperti menyanggul dan pangkas rambut.

Selama saya belajar di SMK Negeri 3 Klaten banyak ilmu tata rias yang saya dapatkan. Butuh kedisiplinan, ketelitian, dan kecermatan ketika melakukan praktik baik kulit maupun rambut. Di sisi lain, ada hal yang kadang menyurutkan semangat saya dan mungkin juga teman-teman karena tanggapan negatif dari masyarakat atau bahkan guru.

Memang secara penampilan kami terlihat urakan, tidak lazim seperti siswa yang duduk di bangku kuliah pada umumnya. Rambut kami berwarna, make up kami tebal, dan kuku kami berhias karena ada pembelajaan nail art.  Saya dan teman-teman menyadari tampilan seperti itu masih tabu di lingkungan Masyarakat. Akan tetapi, ini adalah bagian dari pembelajaran.

Bahkan saking santernya penilaian lingkungan sekitar terhadap siswa kecantikan membuat beberapa siswa justru terbawa arus. Nah, dari ulah beberapa siswa ini kami yang benar-benar ingin menimba ilmu ikut menerima sanksi sosial dari lingkungan. 

Apabila ditanya tidak ada siswa yang ingin rambutnya berubah-ubah warna kalau bukan karena tuntutan pembelajaran. Mendatangkan model dari luar juga tidak mudah. Menggunakan patung mannequin tidak semua siswa mampu untuk membelinya. Jadi, dengan memanfaatkan teman sendiri sebagai model merupakan alternatif agar pembelajaran berjalan dengan lancer.

Saking tidak lazimnya penampilan kami dibandingkan dengan penampilan siswa pada umumnya. Di mata Masyarakat kami sering mendapatkan predikat yang tidak baik. Cerita dari teman-teman ada yang dikatakan pemandu karaoke bahkan ada yang dengan sadar menuduh kalau kami tidak akan lulus karena MBA (Married by Accident).

Jangankan lingkungan masyarakat. Kadang beberapa guru kami juga salah menilai keberadaan kami. Apabila ada siswa yang rambutnya berwarna dan bermakeup tebal pasti dikirinya siswa jurusan kecantikan.  Padahal siswa jurusan lain atau siswa dari sekolah lain yang bonafit pun sebenarnya ada yang lebih heboh dari kami.

Jujur pandangan lingkungan yang tidak pas membuat saya dan sebagian teman merasa sedih dan kecewa. Saya merasa kemampuan saya diremehkan. Padahal, jurusan kecantikan itu juga tidak mudah. Tidak semua anak bisa menjalani prosesnya.

Di jurusan kecantikan semua siswa harus memiliki keterampilan dan kecakapan. Contohnya, ketika sedang praktik pengeritingan,  tidak hanya keterampilan saja yang diandalkan, dibutuhkan katelitian, keuletan, dan kesabaran. Belum lagi bentuk perawatan lain seperti wajah, badan, pewarnaan rambut, dan styling.

Kami sebagai siswa jurusan kecantikan dituntut untuk terus mengikuti perkembangan zaman, berkreativitas, dan berinovasi. Selama pembelajaran praktik semua organ tubuh kami bekerja. Kami berdiri berjam-jam. Tidak hanya sekadar berdiri. Banyak teknik yang harus diperhatikan dan dipraktikkan yang diatur dalam SOP untuk menghindari risiko kerja atau kecelakaan kerja.

Semenjak saya mendapatkan pembelajaran projek penguatan profil pelajar Pancasila dan mengikuti program literasi keberagaman. Saya seolah-olah bercermin. Saya mencari kelebihan dan kekurangan saya. Saya menemukan kekurangan saya, salah satunya mudah terprovokasi dengan kalimat negatif yang dilontarkan orang lain. 

Saya harus berubah. Saya harus menjawab tantangan orang-orang di sekitar saya dengan belajar giat dan rajin berlatih. Saya akan menjadikan olok-olokan tetangga sebagai cambuk bagi saya untuk menggapai kesuksesan. Saya akan tunjukkan kepada guru-guru saya bahwa apa yang telah diajarkan kepada saya dapat mengatarkan saya mencapai cita-cita. Saya akan menerima penilain buruk dari lingkungan dan saya tidak akan menaruh dendam.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan