Hutan, Gunung, dan Air Terjun Buatan di Tengah Kota

Apa yang terlintas di kepala manakala mendengar kata Singapura? Deretan pertokoan di Orchard Road, Singapore Great Sale, atau deretan toko-toko suvenir di Bugis Street? Well, nggak salah punya bayangan seperti itu karena Singapura memang identik sebagai surga belanja, terutama bagi wisatawan Indonesia.

Tapi sebenarnya Singapura memiliki banyak objek menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Gardens by The Bay. Pada akhir Januari 2015 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Singapura dan Gardens by The Bay merupakan salah satu objek wisata yang saya kunjungi.

Gardens By The Bay merupakan representasi dari visi Pemerintah Singapura untuk mewujudkan slogan City in The Garden. Taman ini merupakan satu-satunya taman tropis buatan yang berisi 500.000 tanaman yang terdiri lebih dari 2.200 spesies. Pembangunan taman ini dimulai pada Januari 2006 dengan mengadakan sayembara master plan desain taman. Ada 70 rancangan dari 170 perusahaan dari 24 negara mendaftar sebagai peserta. Pada September, juri mengumumkan dua pemenang, dua-duanya dari Inggris. Pada November 2007, dimulailah pembangunan dan pada Oktober 2011 taman tersebut resmi dibuka untuk umum. Taman yang merupakan hasil reklamasi pantai ini terletak di lahan seluas 101 hektare, terdiri atas tiga taman yaitu Bay South Garden, Bay East Garden dan Bay Central Garden.

Bay South Garden yang dibuka pada 29 Juni 2012 terletak di areal seluas 54 hektare dan memiliki paling banyak spot menarik dibandingkan Bay Central Garden dan Bay East Garden. Sejumlah lokasi yang bisa dikunjungi di Bay South Garden yaitu konservasi, Cloud Forest, Flower Dome, Supertrees Grove, Children’s Garden, horticultural themed gardens, dan Flower Market. Bay East Garden memiliki luas 32 hektare dan Bay Central Garden “hanya” 15 hektare.
Menyusuri areal taman ini, benar-benar terasa nyaman karena lokasinya berada di dalam sebuah dome super besar dan berpendingin udara. Sebetulnya waktu sehari tak cukup untuk menikmati semua areal taman ini. Saya, yang hanya punya waktu 4 jam, hanya mampu menjelajahi dua spot yaitu Flower Dome dan Cloud Forest. Flower Dome terdiri atas beberapa zona yaitu Baobabs and Bottle Trees, Succulent Garden, Australian Garden, South African Garden, South American Garden, Californian Garden, Mediterranean Garden, Olive Grove dan Changing Flower Field Display.

Semua koleksi tanaman di taman ini adalah asli. Bahkan, pengelola bela-belain mendatangkan tanaman asli dari negara asal, merawat tanaman-tanaman tersebut sesuai habitat asli mereka. Itulah sebabnya semua koleksi tanaman ini ditempatkan di sebuah dome tertutup dan berpendingin udara. Puas ngubek di Flower Dome, saya beralih ke Cloud Forest. Ini merupakan taman yang merepresentasikan hutan hujan tropis. Begitu memasuki taman ini, kita akan disambut disambut hawa dingin yang mengigit tulang, gunung plus air terjun buatan setinggi 35 meter. Jujur nih ya, saat menyaksikan gunung dan air terjun tersebut saya sempat terpana. Sampai segitunya ya Pemerintah Singapura! Maklum aja, Singapura tak memiliki gunung, hutan hujan tropis, dan air terjun seperti di negara kita. Menyaksikan itu semua, ingatan saya melayang ke hutan-hutan, gunung dan air terjun di negara kita yang tak terawat. Sedihnya tuh di sinih!

Ketika menyusuri areal ini, kita berasa sedang berada di dalam hutan hujan tropis (tapi minus suara kicau burung-burung karena di areal tersebut memang hanya menyajikan pemandangan alam berupa pohon, gunung dan air terjun artifisial). Asyiknya lagi pengunjung bisa ”mendaki” gunung buatan tersebut, melalui tangga maupun lift. Kita bisa menikmati air terjun dari berbagai level ketinggian gunung buatan tersebut. Suara gemercik air terjun benar-benar mengingatkan saya kepada suasana Grojogan Sewu di Karanganyar. Asal tau aja, air terjun buatan tersebut merupakan air terjun buatan di dalam ruang tertinggi di dunia! Wah!

Cloud Forest memiliki tujuh zona yaitu Lost World, Cloud Walk, Treetop Walk, Cyrstal Mountain, Earth Check, +5 Degrees dan Secret Garden. Setiap zona di Cloud Forest ini menarik untuk dieksplorasi karena masing-masing menyajikan tanaman khas sendiri-sendiri. Tak hanya itu, di setiap zona juga dilengkapi papan-papan informasi tentang hutan hujan tropis, aneka satwa yang bisa ditemukan di hutan hujan tropis plus ancaman terhadap kelangsungan hutan hujan tropis.

Dalam perjalanan pulang menuju hotel, saya hanya dapat termenung memikirkan Pemerintah Singapura yang mati-matian menghadirkan hutan hujan tropis, air terjun, dan gunung agar bisa dijual sebagai objek wisata dan mampu menyedot kunjungan wisatawan domestik dan asing. Sementara di satu sisi Indonesia memiliki banyaaaak sekali hutan hujan tropis, air terjun, dan gunung yang tidak terkelola dengan baik, sehingga tak mampu menarik minat wisatawan asing. Begitulah. Setiap kali pulang dari berwisata di luar negeri, kegalauan saya malah bertambah…hehehe….

Ditulis pada Plesir | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Salut dan Terima Kasih untuk Aremania

Minggu malam 11 Oktober 2015 Stadion Manahan dipenuhi oleh supporter kesebelasan Arema Malang yang menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding melawan Sriwijaya FC dalam lanjutan semifinal leg ke II Piala Presiden. Dalam pertandingan tersebut sebenarnya Sriwijaya FC adalah tuan rumah dikarenakan mereka tidak bisa bermain di Palembang dikarenakan kabut asap. Sehingga memilih solo sebagai homebase mereka.
 
Saya sendiri sedikit kaget ketika masuk ke stadion. Saya tidak menyangka bisa sebanyak ini jumlah Aremania yang datang jauh dari Malang ke Solo. Rasanya malam ini Stadion Manahan menjadi milik Arema Malang. Justru suporter tim tuan rumah (Sriwijaya FC) tampak sedikit. dengan kondisi seperti ini saya khawatir dengan kondisi keamanan apabila akhirnya Arema Malang kalah. Mengingat Aremania merupakan salah satu suporter paling fanatik di tanah air. Fakta yang terjadi didalam stadion hanya terjadi satu insiden di pertengahan babak ke dua, ketika salah satu anggota Aremania dari tribun sebelah selatan memaksa turun dan berlari ke arah lapangan. Untung aparat keamanan dengan sigap mengamankan dan memaksa suporter kembali ke tribun. Sehingga keributan tidak meluas.
 
Hasil akhir pertandingan tersebut dimenangkan tim Sriwijaya FC 2-1 dan berhak melaju ke Final Piala Presiden. Menjelang akhir pertandingan saya sempat khawatir karena Aremania mulai menghujat wasit dengan makian, dan ketika peluit panjang akhir pertandingan dibunyikan dugaan saya salah. Aremania justru keluar dari stadion manahan dengan tertib. Berdasar informasi dari media cetak maupun elektronik, selepas pertandingan usai tidak ada keributan antar suporter atau perusakan fasilitas umum oleh oknum suporter.
 
Saya sebagai salah satu warga solo mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota Aremania yang hadir di Stadion Manahan pada malam itu dan telah menjaga ketenangan Kota Solo dengan menerima kekalahan secara lapang dada dan tidak bertindak anarkis. Saya juga salut dengan perjuangan para suporter Aremania yg menempuh jarak jauh sampai ke solo. Menurut saya ini adalah suasana yang sangat indah dalam persepakbolaan tanah air. Suporter seperti inilah yang akan menjadikan Sepak Bola kita sebagai hiburan tanpa harus merasa terancam akan keselamatan. Tetapi bagi Aremania ada sedikit catatan dari saya ketika didalam stadion menyanyikan lagu ejekan yang ditujukan kepada suporter tim lain yang sedang tidak bertanding. Semoaga di pertandingan lainnya hal ini tidak terjadi lagi. Kita para suporter harus bisa lebih dewasa dan saling adu kreatifitas di dalam stadion tanpa harus saling menghujat dan memaki suporter lain apalagi saling melukai.
 
Sekali lagi terima kasih atas kedatangan dan sportifitasnya di Kota Solo. Sampai jumpa di pertandingan selanjutnya. Salam damai dari Pasoepati.
 
Ditulis pada Olahraga | Tag , , | Tinggalkan komentar

Reichstag, Gedung Parlemen yang Penuh Kisah

 

(Foto: R. Bambang Aris Sasangka)

Berwisata ke gedung parlemen mungkin belum terlalu populer di Indonesia. Namun di Jerman, gedung parlemen nasional di Ibukota Berlin merupakan salah satu objek wisata yang penting.

Saya cukup beruntung bisa berkunjung ke gedung yang dikenal dengan nama Reichstag ini, yang arti harfiahnya adalah parlemen kerajaan. Saya berkunjung tahun 2011 silam, saat berkesempatan mengikuti kursus singkat jurnalisme media online. Memang gedung kuno itu dulunya merupakan gedung parlemen di era pemerintah Kekaisaran Jerman. Nama Reichstag itu yang masih terus dipakai untuk menyebutnya, meski secara resmi parlemen federal Jerman disebut sebagai Bundestag. Gedung rancangan Paul Wallot itu diresmikan penggunaannya pada 5 Desember 1894 setelah masa pembangunan selama 10 tahun.

Sayangnya, gedung ini kemudian terbakar pada tahun 1933, hanya beberapa waktu setelah Adolf Hitler naik ke puncak kekuasaan. Di masa Perang Dunia II, gedung ini juga rusak berat akibat pertempuran. Perang Dingin yang kemudian terjadi dan membuat Berlin terbagi dua antara Berlin Barat dan Berlin Timur membuat gedung ini tak bisa berfungsi sebagaimana seharusnya sebagai tempat wakil rakyat bersidang dan beraktivitas.

Baru kemudian setelah komunisme runtuh dan Jerman kembali bersatu, pada 1991 parlemen Jerman (Bundestag) yang saat itu masih berada di ibukota lama Jerman Barat, Bonn, memilih untuk pindah ke Berlin. Segera diadakan kontes untuk mencari desain terbaik bagi renovasi gedung Reichstag yang lantas dimenangi arsitek terkenal Inggris, Norman Foster.

Norman Foster merombak seluruh bagian dalam gedung, namun tetap mempertahankan bagian luarnya. Hasilnya, sebuah gedung yang tetap pada wajah aslinya yang penuh ornamen di bagian luar, namun modern di bagian dalam. Jadi bisa dibilang renovasi ini ini menjadikan bangunan gedung lama yang asli menjadi kulitnya saja, bagian dalamnya sama sekali baru. Yang juga unik, jejak-jejak peperangan pada Perang Dunia II sengaja dipelihara di gedung ini. Gedung parlemen ini memang menjadi salah satu tempat pertempuran sengit antara pasukan Jerman yang bertahan dengan pasukan Uni Soviet yang menyerbu Berlin di penghujung Perang Dunia II, yang berpuncak pada aksi bunuh diri pemimpin rezim Nazi Adolf Hitler. Jejak perang itu di antaranya adalah coretan-coretan dari tentara Rusia di sejumlah bagian dinding bangunan lama Reichstag. Coretan dalam tulisan Rusia menggunakan kapur atau arang itu masih terlihat cukup jelas.

Sebagai sebuah gedung parlemen, apalagi di negara yang maju seperti Jerman, bagian dalam Reichstag bisa dibilang sederhana dan minimalis, mirip gedung-gedung perkantoran modern. Hanya ada beberapa lukisan dan ornamen dekoratif dari kaca yang tergantung di plafon. Kursi-kursi yang ada, termasuk di dalam ruang sidang paripurna pun kursi berdesain modern dari baja, bukan kursi kayu berukir dengan jok kulit yang mewah. Dinding dan pintu kaca terlihat di mana-mana, dan bahkan dari koridor depan seluruh ruang sidang paripurna bisa terlihat jelas. Menurut petugas pemandu, hal ini memang disengaja untuk memperlihatkan transparansi.

Yang tak kalah menarik dari rancangan Norman Foster adalah kubah kaca yang segera menjadi ciri khas gedung ini, menggantikan kubah model lama. Kubah yang transparan dan memperlihatkan struktur kerangkanya ini menjadi tujuan utama wisatawan karena bisa dinaiki sampai ke puncak. Dari puncaknya, seluruh panorama Kota Berlin terlihat jelas, dan di bawah kaki kita terlihat pula ruang sidang paripurna yang memang terletak tepat di bawah kubah ini.

(R. Bambang Aris Sasangka)

Ditulis pada Plesir | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Wisata Hemat di Tokyo? Bisa Bangeeet

Tokyo! Selama ini identik sebagai salah satu kota termahal di dunia…. maksudnya, semua serbamahal di sini (mengalahkan Singapura dan Paris, Prancis). Tak sedikit orang sudah ngeper duluan untuk menetapkan Tokyo sebagai salah satu destinasi wisata.

Namun saya ingin mematahkan anggapan tersebut. Saya ingin membuktikan berwisata ke Tokyo, Jepang, tak harus berkantong tebal. Mereka yang berkantong pas-pasan seperti saya pun bisa menikmati wisata di salah satu kota termahal di dunia itu. Begitulah. Lalu, bagaimana caranya? Pertama : belilah tiket pesawat terbang jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Kalau perlu, beli enam bulan sebelum keberangkatan. Pilihlah pesawat berbiaya murah. (sekarang sudah tidak ada ya? Tapi maskapai satu ini masih sering ngadain promo kok, kalo Anda sering-sering searching di situs resmi dia).  Tapi risikonya, naik penerbangan murah meriah, yah tak banyak yang bisa dinikmati. Jangan membayangkan ada inflight entertainment lho ya. Saya dapat tiket pulang pergi seharga Rp3 juta untuk penerbangan Solo-Kuala Lumpur-Tokyo pp. Oya, saya melakukan perjalanan tersebut pada Juli 2012, saat itu belum ada aturan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Kalo sekarang mah lebih enak, Anda pemegang paspor Indonesia (asalkan paspor elektronik) tidak perlu visa untuk mengunjungi Jepang. 

Pada masa itu untuk aplikasi visa juga tak mudah. Maklumlah Indonesia terkenal sebagai wisatawan miskin yang hobi over stay di suatu negara. Alhasil sejumlah negara makmur memberlakukan aturan sangat ketat terhadap permohonan visa bagi pemegang paspor Indonesia ini…hihi… Persyaratan yang harus dipenuhi antara lain : tiket pesawat pulang balik (maksudnya sih sebagai jaminan bahwa Anda bener-bener akan pulang ke Indonesia lagi setelah puas berwisata di Jepang), rekening tabungan minimal Rp50 juta, surat pernyataan masih bekerja dari perusahaan, surat pernyataan dari penjamin di Jepang (kebetulan saya punya saudara di sana), surat undangan kunjungan ke Jepang oleh penjamin… begitulah. Jika semua persyaratan itu lengkap, kemungkinan ditolak itu kecil kok.

Berhubung saya malas mengurus visa ke Jakarta, saya memilih mengurus visa melalui biro perjalanan. Biayanya sih sekitar Rp400.000-an. Tapi kalo diitung-itung jatuhnya lebih murah lho (sekarang coba bandingkan jika kita mengurus sendiri ke Jakarta, harus bolak-balik ke Kedubes Jepang…waduuuh! Mana cukup Rp400.000 itu, betul?). Setelah urusan visa kelar, barulah bisa bernapas lega.

Cara menghemat pengeluaran, kedua adalah booking hotel/homestay jauh-jauh hari sebelumnya. Di Tokyo, hotel dan makanan terkenal sangat mahal. Kalo punya sodara atau teman di Tokyo yang bisa dinunuti, lebih baik lagi. At least, kita bisa menghapus biaya penginapan dan makan hihi… seperti yang saya lakukan.  Untuk tempat tinggal, sudah teratasi karena saya numpang tidur di apartemen saudara di daerah Arisugawa (dekat Arisugawa Park). Sedangkan untuk makan, yaaa…ikut nunutlah hehe.. Untuk urusan minum, sama seperti Singapura, bisa ambil di keran umum (jangan beli air kemasan, mahal).

Tips ketiga menghemat pengeluaran adalah mengandalkan transportasi umum yaitu kereta. Saya misalnya, kemana-mana jalan kaki dan naik kereta api. Kebetulan apartemen dekat dengan stasiun kereta api (kira-kira lima menit jalan kaki). Sistem kereta api di Tokyo sebetulnya sama aja dengan kota-kota besar lain misal Singapura dan Bangkok, hanya jalurnya lebih banyak, lebih ruwet. Setiap jalur disimbolkan dengan warna. Saking ruwetnya jalur kereta api di Tokyo, sampai muncul anekdot : Selama kamu tidak buta warna aja, kamu enggak mungkin salah baca jalur2 subway di Tokyo. Gubrak! hahaha…

Tips terakhir, kunjungilah obyek wisata gratis. Ada banyak obyek wisata gratis di Tokyo. Sejumlah obyek wisata gratis di Tokyo antara lain Harajuku, Senso-ji Temple, Hachiko Statue, Hachiko Entrance, Arisugawa Memorial Park, dan kuil-kuil yang tersebar di sudut-sudut Tokyo. Bagi penggemar otomotif, Toyota Web dan Nissan Global Gallery benar-benar menjadi surga karena di dua tempat tersebut pengunjung bisa menikmati aneka mobil, test drive, menikmati games atau minimal berfoto bareng mobil-mobil keren misal Nissan GTR dan autobot di Nissan Global Gallery. Tapi bila Anda ingin mengunjungi Disney Sea atau Disneyland, yah siap-siap merogoh kocek agak dalam ya.. Harga tiket masuk Disney Sea 5.800 Yen (Rp580.000 jika diasumsikan 1 yen = Rp100). Mengunjungi bangunan ikonik di Tokyo, misalnya Tokyo Tower, juga butuh dana tak sedikit yaitu 1.800 Yen (Rp180.000).

Trik kelima yaitu jangan gelap mata di Tokyo, tekan seminimal mungkin hasrat ingin berbelanja. Barang-barang di Tokyo itu lucu-lucuuu banget dan benar-benar menggoda iman untuk membelinya. Karena itu, bila gelap mata, kantong bisa jebol. Saran saya, kalo Anda ingin menyalurkan hasrat berbelanja maka carilah jaringan pertokoan Daiso (jaringan pertokoan ini juga sudah punya flagship store di Jakarta hehe), toko  ini menjual aneka barang seharga 100 Yen (Rp10.000 tapi sekarang naik menjadi 200 Yen. Tapi tetap terjangkau kan). Barang yang bisa didapat mulai dari aneka makanan ringan khas Jepang, peralatan rumah tangga, perhiasan rumah, kaus, dan sebagainya. Bagi pencinta fashion, Tokyo juga merupakan surga fashion. Roppongi Hills (tempat butik-butik dari brand ternama berjejer) merupakan salah satu tujuan favorit pencinta fashion berkantong tebal. Bagi wisatawan berkantong pas-pasan seperti saya, menyiasatinya adalah dengan pergi ke Book Off atau Harajuku. Book Off adalah toko barang second, tapi kondisinya benar-benar baguuuus banget. Produk fashion dari brand ternama bisa didapat di sini dengan harga mulai Rp50.000-Rp500.000. Ada dompet Kate Spade, Channel, dsb. Tak hanya produk fashion, di Book Off kita juga bisa mencari aneka barang rumah tangga, perlengkapan bayi, mainan bayi, dan sebagainya. Harajuku juga merupakan salah satu lokasi yang menawarkan produk fashion dengan harga terjangkau. Ada banyak pertokoan di sepanjang jalan ini, tinggal pilih. Di tempat ini, saya berhasil mendapatkan jaket seharga 1.000 Yen (Rp100.000) dan sepasang sepatu flat seharga 500 yen (Rp50.000)

Dengan sejumlah trik tersebut, ketika pulang, uang saku saya masih sisa Rp1 juta. Jadi selama 7 hari di Tokyo, saya “hanya” menghabiskan Rp 1juta… hehehe… lumayan menghemat kan?

 

Ditulis pada Plesir | Tag , , | Tinggalkan komentar

Menjawab Tantangan Kesetaraan Kekuatan Maritim

(Ilustrasi: Antara)

Perkembangan situasi di tingkat kawasan yaitu Asia Tenggara kini makin dinamis, yang diwarnai pula situasi yang memanas terkait sengketa wilayah kaya sumber daya alam di Laut China Selatan antara China dengan sejumlah negara Asia Tenggara.

Memang Indonesia tidak termasuk negara yang bersengketa dengan China, namun kita justru harus memanfaatkan situasi ini sebagai rujukan kesiapan segenap sumber daya maritim untuk mengantisipasi kemungkinan konflik. Kita lihat saat ini China sangat menggenjot kekuatan maritimnya, yang terakhir dengan peluncuran kapal induk Liaoning yang bakal dilengkapi pesawat tempur J-15, yang merupakan kopian dari pesawat tempur Rusia versi kapal induk, Sukhoi Su-33. Meski sejumlah pengamat seperti misalnya Rodger Baker dan Zhang Zhixing dalam ulasan berjudul The Paradox of China’s Naval Strategy di situs kajian strategis stratfor.com (http://www.stratfor.com/weekly/paradox-chinas-naval-strategy) menilai China masih dalam proses transisi untuk memproyeksikan kekuatan maritimnya keluar demi kepentingannya, segenap perkembangan ini harus diikuti dengan cermat demi kepentingan nasional kita.

Kondisi di tingkat kawasan itu layak menjadi rujukan dalam pengembangan TNI AL ke depan, khususnya terkait dengan visi mewujudkan TNI AL yang andal dan disegani. Visi ini sangat penting dan tepat karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan luas wilayah laut 93.000 km persegi dan luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 6.159.032 km persegi. Kondisi geografis Indonesia ini semakin spesial dengan posisi yang terletak di antara dua benua dan dua samudera besar sehingga membuat wilayah ini dari abad ke abad senantiasa menjadi jalur perlintasan perniagaan yang sangat penting dan vital.

Oleh karenanya, kebutuhan adanya angkatan laut yang kuat dengan perlengkapan yang sesuai zaman dan kebutuhan dengan ditunjang sumber daya manusia yang memiliki profesionalisme dan kompetensi tinggi sudah menjadi keniscayaan. Akan tetapi kekuatan TNI AL yang andal dan disegani itu pun takkan bisa terwujud jika visi maritim yang kuat dan integral belum terbangun di negeri ini.

Masih banyak tafsir mengenai visi maritim ini, seperti misalnya yang dikemukakan peneliti pertahanan Connie Rahakundini Bakrie dalam tulisan di situs indomaritimeinstitute.org berjudul Negara Visi Maritim. Connie menyebut bahwa visi maritim akan dipengaruhi kemajuan yang sudah dicapai di daratan dan tidak akan efektif jika tidak didasarkan pada konsepsi mengenai pertahanan negara yang menyeluruh. Menurut dia, pembangunan kekuatan maritim adalah tahap lebih lanjut setelah dipenuhinya kualitas yang unggul atas pertahanan matra darat. Ditambahkannya, dalam perkuatan armada laut, sebuah negara harus sudah memiliki pertahanan darat, sistem intelijen, pemerintahan dan perekonomian yang kuat dengan dasar strategi ekonomi politik yang tangguh untuk menjaga kedaulatan negaranya.

Tak jauh beda dengan yang dikemukakan mendiang Laksamana Purn Soedomo seperti dikutip dalam majalah Jalasena terbitan Mei 2011. Dirinya menyatakan visi maritim bisa dibangun dengan merujuk pada visi Kerajaan Majapahit yang memproyeksikan kekuatan melalui samudera untuk mempersatukan berbagai wilayah, serta merujuk pada misi Laksamana Zheng He atau Cheng Ho yang memanfaatkan kekuatan maritim untuk perdagangan dan promosi kebudayaan.

Meninjau kondisi aktual di tingkat kawasan, misi TNI AL yang saat ini masih sejalan dengan TNI secara umum yaitu membangun kekuatan dengan ukuran minimum essential force atau kekuatan pokok minimal perlu secara dinamis terus dikaji dan disesuaikan dengan perkembangan tingkat kawasan. Konsep pertahanan dan alat utama sistem senjata (Alutsista) penunjangnya semestinya sudah makin diarahkan menuju prinsip kesetaraan, meski mungkin kesetaraan minimal. Artinya, Alutsista dan segala kemampuan sumber daya penunjangnya harus memiliki kualitas setara dengan kekuatan termaju di kawasan, walaupun dari segi kuantitas mungkin belum menyamai. Yang tak kalah penting, ketersediaan Alutsista dan kelengkapannya juga sesuai dengan tren potensi ancaman.

Misalkan saja dalam rangka pengamanan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur pelayaran internasional. Jangan dilupakan “Insiden Bawean” yang terjadi 3 Juli 2003 silam, saat pesawat-pesawat tempur F/A-18 Hornet dari kapal induk USS Carl Vinson bermanuver di wilayah perairan Laut Jawa sehingga terpaksa dicegat oleh pesawat F-16 dari Lanud Iswahjudi Madiun dan saat itu nyaris terjadi dog fight. Meski insiden ini sudah lama terjadi, namun hal ini membuktikan bahwa kekuatan TNI khususnya TNI AL perlu lebih banyak memproyeksikan diri sebagai pengaman jalur perlintasan internasional itu, sekaligus menunjukkan kemampuannya sebagai deterrent atau kekuatan penangkal yang membuat negara lain tak berani sembarangan berulah di dalam teritorial Indonesia.

Menyikapi kondisi terakhir di kawasan Laut China Selatan, Indonesia dengan TNI AL-nya tetap perlu berperan sebagai kekuatan penengah di antara potensi-potensi konflik yang ada. Hal ini bisa dicapai, selain melalui jalur diplomasi aktif, juga melalui perkuatan-perkuatan unsur-unsur TNI AL. Penambahan Alutsista seperti kepemilikan rudal-rudal antikapal permukaan dan antiserangan udara dari jenis terbaru mutlak diperlukan untuk menjaga kemampuan pertahanan dan deterrent TNI AL. Selain itu penambahan kekuatan lain seperti pesawat-pesawat antikapal selam, baik sayap tetap maupun helikopter, patroli maritim serta kapal selam harus dijaga kesinambungan pengadaaannya agar sesuai dengan realitas kebutuhan dan mewujudkan prinsip kesetaraan dengan kekuatan lain di kawasan ini.

Jangan dilupakan pula aspek pembinaan personel untuk menjaga kualitas dan profesionalisme. TNI AL sudah punya pengalaman operasi laut di luar negeri seperti saat menangani pembajakan kapal dagang MV Sinar Kudus oleh perompak Somalia beberapa waktu lalu serta operasi maritim PBB di perairan Lebanon, yang membuktikan kualitas para pelautnya. Keterlibatan dalam operasi-operasi internasional ini perlu terus dipelihara untuk meningkatkan wawasan dan pengalaman segenap personel. Program pengamanan pulau terluar yang selama ini sudah dilaksanakan terutama oleh unsur Korps Marinir perlu diperkuat baik dari segi jumlah personel maupun kelengkapan persenjataan dan sarana pendukung seperti komunikasi dan fasilitas lainnya.

Dengan terpeliharanya seluruh kemampuan dan terus terlaksananya proses perkuatan-perkuatan itu, niscaya TNI AL akan mampu mewujudkan visinya sebagai kekuatan yang andal dan disegani. “Jalesveva Jayamahe, di laut kita jaya!”

(R. Bambang Aris Sasangka, tulisan ini memenangi lomba penulisan artikel dalam rangka Hari Dharma Samudera TNI AL 2012)

Ditulis pada Sosial Politik | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Pengalaman Menarik Bersama Solopos

 mengapa saya mengambil gambar Kantor Redaksi Solopos, karena saya masih ingat ketika saya mengirimkan artikel berupa cerpen. Cerpen saya pun pernah dimuat di Koran Solopos, dan itulah pengalaman berkesan dan membuat saya bahagia dan menangis terharu ketika artikel cerpem saya diterbitkan. Saat saya masuk ke dalam Kantor saya sangat kagum betapa megahnya Kantor ini. Ketika saya lulus SMA saya ingin bekerja dan saya tidak tahu harus bekerja di mana karena tidak ada referensi yang bagus. Dan Koran Solopos ini memberikan saya solusi tentang informasi lowongan pekerjaan, meskipun saya harus meminjam Koran Solopos di Kios koran, ya karena saat itu saya belum punya uang, dan harus menempuh jarak 1 km menuju kios koran yang dicari hanya Koran Solopos dan yang dibuka adalah lowongan pekerjaan. Dan itulah pengalaman yang menarik dan berkesan dalam diri saya. Sampai sekarang saya masih tetap membaca Koran Solopos karena kenangan itu yang tak terlupakan dan sangat berkesan. Terimakasih Solopos sudah memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan dan memberikan informasi yang akurat dan bahasa yang mudah dipahami. Kiranya Tuhan terus memberikan anugrah-Nya untuk Solopos agar semakin maju dan berkembang pesat

Ditulis pada Writing Contest | Tag | Tinggalkan komentar

Solopos Tetap Jos !

Solopos  tetep Jos !

Nama minangka japa, ungkapan syarat makna yang mampu menjadi penanda. Sebagai kekuatan dan mampu menjadi do`a. Sebagai bentuk  harapan ke depannya lebih sukses. Kesungguhan upaya sebagai awal meraih tujuan yang akan dicapai. Beberapa aksara penyusun yang menjadi  nama atribut harian Solo Pos. Bila dilihat sejenak ada muatan yang dapat diurai satu demi satu huruf adalah sebagai berikut,:

Huruf “S”, identik dengan Saudara,  kekayaan yang tiada akan habis sepanjang masa. Malahan menggunung es semakin merambah semakin kuat dan membesar. Berkekuatan ekstra sehingga mampu mengatasi setiap persoalan yang ada. Semangat kekeluargaan  dalam memberdayakat masyarakat luas. Sebagai bentuk tanggung jawab yang menjadi  acuan beraktifitas.

Huruf “ O” simbul Olah potensi, segenap sisi diberdayakan melalui rubriknya. “L” selalu Lugas tanpa tendensi  muatan politis tertentu.Omset luas, ditengarai  banyaknya  lahan. “P” sebagai Prinsip dengan pakem  yang menjadi jendela informasi. Ora neko-neko, tanpa melecehkan dan merendahkan martabat  publik. Sukses untuk usia muda namun menggelora dengan beberapa prestasi.

Beberapa momen sebagai catatan tersendiri bagi diriku. Ada perhatian khusus yang menjadi sasaran baca yang pertama dijujuk. Semisal  Langgagan yang  ada TTS nya karena ada hadiah, minggu dan kamis.  Ternyata sampai kini sudah lebih dari sepuluhan kali dapat lolos. Dan mampu menjadi bentuk kebahagiaan tersendiri ketika tertulis namanya di koran.

Kamis ada kolom bahasa jawa dan tts jawa OAG otahak Athik Gathuk. Ada keunikan tersendiri dengan menulis kosa kata Jawa dan beberapa ilmu berkaitan dengan bahsa jawa.

Minggu TTS berhadiah dan TTS Jumbo saat ulang tahun.  Ada penambahan setiap harinya  ada kolom TTS yang diumumkan pemenangnya  di  bulan berikutnya. Sehingga secara tak langsung memberikan suguhan yang menjadi belajar berfikir dan berupa hadiah.  Mendapat telepon dari Solopos, pertanyaan poling tentang masukan agar kolom nya yang perlu ditambah.

Berkunjung ke Solopos ambil hadiah. Acara yang menarik dan melihat langsung di kantor. Tenaga yang masih muda-muda dan energik sebagai sebuah kesatuan. Dengan kapasitas kerja yang nonstop mampu melayani masyarakat.

Ikut LPJS agar  dapat  menulis di media massa. Ada pengumuman yang memberikan pembekalan tentang jurnalis dan tata tulis di media massa. Beberapa trik dan kiat mampu menjadi bekal dalam menulis di media. Ternyata dapat info langsung dari punggawa Solopos yang mengurai  materi jurnalistik.

Mencoba menulis Jon Koplo. Muncul namaku tapi dalam ralat bukan tulisan Wiyono agung,Ternyata juga lolos dan pernah unik salah nama yang tertera. Penulis bukan namaku dan yang benar namanya, orang lain. Dan hari berikut baru tulisanku termuat. Hal-hal yang menjadi catatan sederet momentum bersama SOLOPOS. Foto kenangan kostum LPJS ke 13 saat berpose di Jabal Rahmah. Selamat dan tetep Jos !! ( Wiyono AS)

 

Ditulis pada Writing Contest | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Belajar dari Pantai

Belajar dari Pantai

Negeri bahari dengan wilayah perairan yang luas. Banyak pantai yang bertebaran di sepanjang negeri kita. Pesona wilayah  perairan yang luas menuntut kepedulian bersama. Kesungguhan dan kepedulian serempak memberdayakannya. Potensi yang belum dioptimalkan oleh kita semua. Penyadaran untuk mengolah  potensi yang terkandung di setiap sisi. Kekayaan dan panorama asri yang layak untuk dijadikan sumber pembangunan  masyarakat.

Memulai dari pemahaman  bahwa, alam sebagai media pembaik diri. Belajar mengembangkan segenap potensi melalui   alam raya. Tersedia langsung dan menjadi bagian komunitas kehidupan raya. Kepedulian dan aksi kreatif untuk memberdayakannya. Dituntut kemampuan mengemas  dengan nuansa yang menarik untuk ditindak lanjuti. Telah banyak manfaat yang dapat dikenal sebagai  bahan pembelajar. Utamanya  untuk meningkatkan kemampuan peserta didik mengenal keunggulan alam kita.

Fasilitas  pembelajaran alam sekitar yang  apresiatif. Mampu mengunggah berbagai nilai yang dimunculkan. Setiap diri mampu mengapresiasikan dirinya dalam bentuk sikap. Rasa menggembirakan dan membuat pemikiran yang inovatif. Suasana panorama alam untuk pembelajar yang memberikan pengalaman peserta. Diantaranya mengenalkan  lingkup  pantai yang berada di wilayah sekitar  kita. Upaya untuk memberikan wahana apresiasi anak untuk ikut melestarikannya.

Mengarahkan  kegiatan rekreasi menuju pantai. Layak muatan pendidikan yang dapat diambil dengan nyata. Pengalaman inilah untuk menyadarkan bagi anak didik kita penting melestarikan alam. Berkunjung untuk berwisata ke pantai. Mengenalkan  anak  agar akrab dengan pantai, diperlihatkan keindahan alamnya. Dapat  menyaksikan sendiri  betapa luas pemandangan ke depan biru semua. Bahkan dapat merasakan asinnya air laut secara langsung. Kenyataan sebagai sumber pengalaman  dengan nyata.

Pantai  sebagai media terapi. Sumber energi berupa udara segar untuk pernafasan. Pantai dengan udara  segar terjauh dari polusi udara. Terjauhnya polusi udara dan hiruk pikuk kota yang padat kendaraan. Menikmati alam dengan panorama alam yang mempesona. Pemandangan luas terhampar di depan mata kita sejauh mata sejauh melihat.

Olahraga berkolaborasi dengan pantai. Ajang kreatifitas untuk berkreasi  secara inovatif. Mampu menjadi   sentral  perhatian dunia, menyorot  kegiatan ini. Semacam momen yang digelar merupakan daya pikat tersendiri.  

Olahraga di pantai  untuk menjadi daya tarik tersendiri. Lahan berwisata yang dikemas dengan olahraga. Sebagaimana digelar even internasional bola voli Asia Pasifik baru-baru ini. Mengambil di pantai Sepanjang  Gunungkidul. Sebagai bentuk  apresisai yang  menyuguhkan nuansa wisata bertaraf internasional. Yang mampu mengundang wisatawan domestik dan luar negeri. Gema yang begitu membahana lewat media sosial, dan media massa.

Dapat memberdayakan semua sisi. Sektor ekonomi  berbasis  wisata dan berbagai  komponen terkait. Mendunia sebagaimana media untuk mengenalkan keunggulan. Sebagaimana pantai yang dipergunakan sebagai ajang lomba bola voli. Mengundang insan  manca  untuk berapresiasi menularkan  potensinya. Sebagai bentuk upaya aktif dalam mengembangkan diforum internasional,  ( Wiyono AS)

 

 

Ditulis pada Plesir | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Habis Kudet Jadi Update

Pagi yang baru di hari yang baru. sebelum saya melanjutkan pengalaman saya bersama solopos perkenakan terlebih dahulu saya Rayendra Pangestu seorang pelajar dan pembaca setia koran solopos baik secara hardcopy dan softcopy atau nama lainnya (koran elektronik).

Awal pengalaman ini terjadi ketika saya berada di jenjang sekolah Smp kelas 3. Awalnya saya kurang mengetahui kejadian apa yang sering terjadi di area Solo dan sekitarnya mungkin karena kurang baca-baca berita tentang kota sendiri yang dikarenakan ga tau mana sumbernya . Setiap kawan-kawan membahas berita baru tentang area solo saya cuma diam mendengarkan dan pura-pura mengerti tentang yang mereka bicarakan. Betapa ngenesnya coba jika kalian dalam posisi itu. Kejadian itu terulang setiap harinya dan saya hanya bisa menjadi pendengar setia untuk mereka.

            Waktu istirahat adalah waktu dimana saya dan teman-teman bisa bersantai bareng sekaligus ngobrol-ngobrol.“eh bro wingi PERSIS Solo menang 1-0 Karo ngendi to?” seorang kawan ku memulai sebuah pembahasan,lalu kawan-kawanku lainnya saling menjawab dan tentunya model-model anak sekolahan smp suka adu argumentasi, dan disitu saya tetap diam seakan hanya menjadi penonton setia argumentasi mereka. Adu argumentasi berlangsung hingga terdengar “teeet…teeettt…teeettt..” tanda Bel pulang sekolah serta tanda bel untuk mengahiri argumentasi mereka. Jujur saja saat smp saya dijawa baru 1 tahun jadi belum banyak mengetahui sumber-sumber berita di area Solo J. Yang saya tau ya cuman dari berita siaran televisi Nasional.

Perkenalan saya dengan solopos berawal ketika saya sedang melakukan kegiatan Blogging dan membuka facebook. Saat itu saya membaca sebuah url yang bercaption “Kebakaaran Solo Kios Buku Sriwedari Kerugian Rp 2,6 Milliar” lalu saya klik dan saya baca. Dan saya pun terkejut ketika mambca itu, ternyata berita itu tentang area solo karena saat saya klik saya cuma asal-asalan kik saja. Setelah saya sudah selesai membaca saya lanjutkan kegiatan utama saya tadi.

 Esok harinya ketika jam istirahat kawan-kawan saya membahas berita yang kemarin baru saja saya baca. Betapas senangnya coba Ahirnya sekarang  sudah tidak menjadi penonton saja tapi sudah bisa terlibat dalam pembahasan itu J. Pembahasan berlangsng sangat menarik ada yang beradu argumentasi ada yang Cuma nyengar-nyengir dll.

            Kegiatan itu berlangsung hingga artikel ini saya buat. Dimana saya sudah tidak menjadi siswa smp lagi. Memang solopos itu merubah orang yang awalanya ga tau apa-apa tentang informasi (kudet) menjadi tau apa-apa(update).

            Pengalaman itu menjadi salah satu pengalaman berharga sekaligus menarik buat saya karena dari 0 menjadi 1 atau dari kosong menjadi berisi. Pembaca memang bisa tertawa saat membaca ini tapi dibalik itu kita semua pernah mengalami hal ini.

Salam Soloensis…! Hidup Solopos..! Selamat Ulang tahun Solopos jaya selalu..!

Salam Rayendara Pangestu

-Pembaca setia Solopos sekaligus penulis blog dan pelajar

 

 

Ditulis pada Writing Contest | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Sudahkah Guru menjadi Kunci Pendidikan?

oleh : Kombes Pol. Dr. Chrysnanda Dwi Laksana M.Si.

Kaprodi S3 Kajian Ilmu Kepolisian STIK –PTIK

 

Berbicara Guru yang mendidik dan mengajar. Kita mencoba meminta sharing dengan Kombes Pol. Dr. Chrysnanda Dwi Laksana, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Strata 3 (S3) Ilmu Kepolisian di STIK-PTIK.

Sebagai seorang Polisi, Guru, akademisi dan penulis beberapa buku, tentu  pendapat yang di idealkan dari seorang guru dapat dijadikan referensi untuk menjadi guru yang berkualitas dan berkarakter. Oleh karena itu mari kita menyimak pendapat/ide/gagasan dari mantan Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya ini.

Bagaimana menjadi guru yang di idealkan?

 Menjadi guru yang diidealkan karena bisa menjadi role model Memiliki integgritas, komitmen,kompetensi dan keunggulan

Apakah guru yang mendidik dan mengajar sudah sesuai karakter pendidikan?

Belum tentu karena mendidik merupakan proses menyiapkan, membekali, melatih,memotivasi, memperjuangkan, mentransformasi, menumbuh kembangkan

 Lalu bagaimana implementasinya guru mendidi dan mengajar mampu menjadi kunci pendidikan?

Guru memang harus top, menjadi ikon+role model/ mempunyai keunggulan dam bisa diungggulkan

Sebagai guru Katolik di sekolah Katolik harus melakukan apa?

Meneladan dan menerapkan ajaran Yesus Kristus sebagai Guru Sejati.

Adakah solusi kreatif dan inovatif?

Kemauan,keberanian mencari dan menemukan terobosan baru untk memberdayakan, memperbaiki ,meningkatkan dan membangun

Dalam harian Kompas senin 27 oktober 2014 membahas peran guru dalam pendidkan. Dalam bahasanya menjelaskan guru menjadi kunci dalam penddikan. Guru merupakan tokoh sentral dalam pendidikan untuk mengajarkan, mentransformasi, memotivasi,menginsprasi,  mendampingi, menjadi konsultan bagi murid-muridnya untuk mampu menjadi dirinya sendiri.

 Dalam konteks ini adalah karakter anak didiknya . Spiritualitas guru inilah yang hendaknya menjadi acuan dalam pendidikan berkrakter. Kita masih ingat dan tercatat dalam sejarah bagaimana guru-guru kita mengajar di Malaysia. Mereka mengimport guru-guru handal dari Indonesia untk membangun karater bangsanya. Guru selayaknya ditempakan pada kelas tertinggi sebagai golongan terhormat karena merekalah yang membuka pintu-pintu dan jendela-jendela pengetahuan sehingga dapat majulah peradaban suatu bangsa.

 Pada kenyataanya menjadi guru bukanlah menjadi idola. Karena penghargaan yang kurang, kesejahteraan yang pas pasan. Sehingga banyak guru yang terpaksa mengambil langkah yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang guru. Dengan berbagai alasan, untk memenuhi kebutuhanya, dari memberi bocoran ujian, menjual nilai.

Guru-guru di lembaga pendidikan

Guru dimanapun berada (sekolah formal/informal/kepolisian/ kementrian)  semestinya juga sama dengan posisi guru-guru lainya secara ideal, yaitu punya kompetensi, punya idealisme plus menjadi role model bagi siswa/siswinya untuk melihat seorang  yang profesional, cerdas, bermoral dan modern. Apakah faktanya seperti posisi guru yg ideal? Tentu saja tidak.

Mengapa demikian? Core value yang aktual sekarang ini bukan pada yang ideal. Aparat dilihat sebagai pejabat, petugas  yg dekat dengan penguasa/kekuasaan, yang pandai cari uang, yang pandai melayani, yang loyalitasnya kepada atasan/pejabat hebat setengah mati, jago untuk kasak kusuk dan sogok menyogok.  Mereka bukan profesional melainkan sosok produk hutang budi, produk dekat dengan penguasa dan sebagai safety player. Dengan demikian posisi sebagai guru akan dipandang sebelah mata bahkan terabaikan. Yang lebih parah lagi apabila dijadikan tempat buangan atau penghukuman bagi orang-orang yang bersalah, bermsalah atau diangggap sebagai pembangkang. Hal tersebut tidak boleh terjadi. Dampak pengabaian terhadap guru di lembaga pendidikan adalah buruknya kualiitas sumber daya manusia (SDM).

Tatkala SDM buruk maka produk kinerjanya akan buruk juga yang membuat institusi bercitra buruk yang muaranya ketidak percayaan. Guru darr kata gu yang bermakna kegelapan dan ru membuat terang. Guru ada sang pencerah, yang menginspirasi. Murid akan merekam perilaku sang guru bukan apa yang diomongkan dan ajarkan saja

Guru yang hebat akan menerangkan yang rumit dengan cara yang sederhana. Ia juga sebagai inspirator, motivator, fsilitator, dan pemberi energi positif kepada para muridnya. Guru “digudu lan ditru”. Guru pekerjaan mulia pencetak orang-orang hebat dan ia tetap saja pada posisinya namun jasanya tak lekang oleh ruang dan waktu. Lagu oemar bakri karangan iwan fals menganalogikan  betapa hebatnya perjuangan guru yang disia siakan walau hidupnya penuh perjuangan  dan menghasikan banyak orgpenting dan hebat.

Tatkala akan menghasilkan bangsa yang hebat maka sangat tergantung dari berapa banyak guru yang hebat tersedia. Pasca bom atom di hirosima dannagasaki yang ditanyakan kaisar hirohito adalah, berapa banyak guru yang masih ada. Di sini menunjukan betapa besar perhatian sang kaisar pada SDM sebagai aset utama bangsa.

Tatkala Lembaga Pendidikan akan membangun institusinya menjadi hebat maka guru-guru hebat tersedia di semua lembaga pendidikan negeri atau Swasta. Sebaliknya tatkala tidak tersedia guru-guru hebat atau minimnya guru hebat maka Lembaga pendidikan akan lebih banyak jalan ditempat, dan jangan-jangan  malah mundur kebelakang.

 

Yang menjadi pertanyaan bersama. Sudahkah guru-guru dimanapun posisinya menjadi kunci pendidikan ? (han)

Ditulis pada Sosial Politik | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

BERKESAN ITU TAK HARUS BAHAGIA

Halo Readers… Nama saya Zulfa Nur Widowati. Saya masih bersekolah di SMAN 1 KARANGANYAR. Sekarang ini, saya kelas 2 sma. Oke readers, perkenalan sudah cukup. Sekarang saya mau bercerita tentang pengalaman menarik di solopos. Awal pertama kali saya mengenal solopos ketika saya masih SD Kelas 3. Saya mulai mengerti solopos ketika ayah saya selalu membaca di setiap pagi. Dan saya mulai mengerti bahwa solopos itu adalah sebuah koran. Saya iseng, membuka isinya dan pas sekali dapat di halaman yang khusus puisi. Kebetulan saya suka sekali yang namanya membuat puisi. Saya ingin sekali mengirimkan karya puisi saya, tapi ketika itu saya bingung bagaimana cara mengirimkan karya saya ke Koran Solopos. “Yah, gimana sih cara ngirim puisi ke Koran Solopos?” pertanyaan itu membuat ayahku tertawa kecil. “Kenapa nak? Mau ngirim apa? Mana ayah tahu nak, ayah tidak tahu yang begituan. Kamu kan ikut ekstra jurnalistik di sekolah, tanya saja sama pembinamu.” Perkataan ayah membuat saya bertanya kepada Pembina Jurnalistik. Rupanya bisa dikirim lewat email dan bisa juga datang ke Kantor Solopos langsung. Saya mencoba mengirimnya langsung ke Kantor Solopos dengan mobil antar jemput saya, dan tiba di depannya saya ragu-ragu. Apa iya karya saya akan dimuat? Akhirnya saya memutuskan untuk balik ke rumah. Enggak jadi deh.

Dan ketika saya kelas 7 SMP, Ekstra Jurnalistik saya dari SMPIT NUR HIDAYAH SURAKARTA Outing Class ke Kantor Solopos. Senangnya hatiku turun panas demamku kini aku bisa ke solopos. Pertama kali membuka pintu depan Kantor Solopos, hati saya benar-benar ingin segera masuk. Ruangan di dalam terlihat tenang. Tiba ketika saya masuk di percetakan, ingin rasanya mengeluarkan karya-karya yang telah saya buat keluarkan dari tas. Supaya bisa dicetak layaknya karya-karya lainnya. Sayangnya, rasa ketidakpercaya diriku masih melekat. Ya sudahlah..  aku hanya bisa memanfaatkan waktu yang masih ada dengan bertanya sebanyak-banyaknya kepada Petugas dan Wartawan Solopos. Tak lupa, ketika masuk ruang studio rekaman radio saya berfoto dengan berperan nyata layaknya penyiar radio. Hahaha lucu lho.

Dan sampai kelas 9 smp, ketika saya mau mengirimkan tulisan dimana ada yang cerpen dan ada juga yang puisi, rasa ketidakpercayadirian saya masih saja muncul. Alhasil, karya-karya saya masih tersimpan di sebuah map yang saya sendirikan. Ketika saya mulai kelas 10 sma, saya ditawari seorang kakak kelas katanya ada lomba wasis. Awalnya mulai bingung apa itu wasis. Dan si kakak kelas itu menjelaskan bahwa wasis adalah wartawan siswa. Aku ditunjukan poster lomba wasis tersebut dari handphonenya. Tiba-tiba rasa tertarik ini mulai muncul dari dalam hati. Okey, saya akhirnya berpikir sejenak dan memutuskan untuk ikut. Masih ada waktu dua minggu lagi. Saya menggunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Saya mewawancarai  beberapa teman saya tentang hal-hal yang berkaitan tentang ekskul di sekolah saya. Setelah saya mewawancarai, saya membuat laporan hasil wawancara saya. Rupanya 3 hari lagi deadline berlangsung. Dan besoknya saya harus pergi ke kampung inggris pare. Hari itu juga, saya menyelesaikan project saya. Dan setelah itu, saya kirim lewat email. Hati saya tenang sekali karena semua sudah kelar. Tinggal leyeh-leyeh katane wong jowo kui ngono. Hehe..

3 hari kemudian ketika hari deadline terjadi, kakak kelasku mengecek bagaimana format penulisan dan bagaimana sudah benar-benar terkirim belum. Saya menjawab dengan yakin to. Lha saya saja sudah benar-benar ngirim kok. Saya ngeyel sama kakak kelas saya. Tapi, karena saya sudah capek berdebat sama dia, akhirnya saya buka email saya dan menunjukkan bukti bahwa project tentang lomba wasis sudah terkirim. Tapi ternyata, upss belum terkirim, ternyata email saya pending. NOT SEND. Sedihnya… Lalu, saya berusaha mengirim email itu kembali. Satu kali enter semua pun beres. Alhamdulillah. Kakak kelas itu benar-benar menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak begitu, mungkin karya saya akan terpendam lagi dan tidak akan terkirim ke solopos.

 

Itu adalah pengalaman berkesan saya dengan solopos. Menurut saya pengalaman berkesan tidak harus yang baik-baik, tapi yang sedih pun itu juga pengalaman berkesan. Dimana dari saya tidak berani mengirimkan karya-karya saya ke solopos akhirnya baru berani mengirimkan ketika sma. Dimuat atau tidaknya menurut saya tidak begitu penting. Yang terpenting adalah berani terlebih dahulu. Karena keberanian awal dari keberhasilan yang nyata. Seringkali, tekad mengalahkan kemampuan kita. Pokoknya asal niat pasti bisa deh. Hehehehe.. sudah dulu ya readers, see you.

Ditulis pada Writing Contest | Tag | Tinggalkan komentar

Membumikan Batik di Sekolah

Kegiatan membatik di aktualisasikan dan dioptimalkan di SMP PL Bayat Klaten. Sebuah kegiatan yang membumi demi melestarikan batik sebagai budaya nilai leluhur.  Seperti yang dilaksanakan pada setiap hari Sabtu di halaman tengah Sekolah. Puluhan siswa kelas 7 (tujuh) melakukan aksi membatik di kain sepanjang 50 meter.

Kegiatan ini bertujuan melanjutkan rangkaian peringatan 50 tahun (pesta emas)  usia sekolah dan reuni emas, yang baru saja diperingati pada tanggal 1 Agustus 2014. Maka guna merampungkan  desain batik 50 tahun oleh siswa,  setiap hari Sabtu pada jam ke 7 dan 8  kegiatan belajar mengajar di sentralkan dengan membatik.

Pada dasarnya pelajaran membatik tidak hanya sekedar teori namun harus dengan praktek. Teori diwajibkan bagi kelas 7 dan 8  oleh guru Batik I Wawang Setyawan, dan prakteknya  dilaksanakan setiap hari Sabtu.

 Seperti dikatakan oleh Lukas Sumadi (pendamping praktek membatik), bahwa teori tanpa praktek makan tidak akan maksimal. “disini saya hanya membantu di prakteknya saja karena pernah bekerja menjadi buruh di  pabrik batik dan membuat siswa mampu mencintai batik ” ujar pelaksana di SMP ini.

Membatik di bentangan kain sepanjang 50 meter,  siswa-siswa merasa gembira. Karena  langsung membatik di selembar kain. Sri Mulyaningtyas seorang siswi yang saat praktek mengatakan bahwa  senang sekali dengan praktek membatik. “menjadi mengerti alat-alat yang dipergunakan membatik selain kain putih, mulai dari canting, malam, kompor kecil, wajan  dan lain-lain,” ucap siswa kelas 7 B ini.

SMP PL Bayat Klaten sangat apresiasi dalam mengoptiimalkan membatik karena merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Dibuktikan dengan diakuinya oleh UNESCO bahwa Batik merupakan artefak   maka layak dilestarikan dan dibudayakan.

Oleh karena itu, berbagai pelajaran ketrampilan memang haru dipraktekkan secara nyata. “Hasil karya siswa SMP PL Bayat dapat dilihat di mading sekolah. Hasil karya siswa sering dipamerkan dan  sering di pesan oleh desain desain untuk dibuat baju dan gaun “ pungkas Sumadi. (han)

 

 

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Suka Duka Bersama SOLO POS

Arif Saifudin Yudistira*)

            Ingatanku tentang Koran SOLO POS dimulai ketika aku masuk kuliah pertama kali di tahun 2006. Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di UMS. Di kampus inilah aku mulai mengenali Koran SOLO POS. Semula aku mendapati Koran ini tercecer di ruang kantor mahasiswa di salah satu UKM di kampus ini. Aku pun menekuri Koran ini, pelan-pelan aku memperoleh informasi dan berbagai ilmu terutama tentang Koran dari sini. Aku pun mulai membaca rubrik GAGASAN yang biasanya diisi tak hanya dari kalangan dosen, peneliti, ilmuwan ,dan sebagainya.

            Kemudian aku mulai mengenali ada rubrik yang menurutku bisa aku kirimi tulisan. Rubrik itu adalah rubrik Ah tenane, Rubrik Mimbar Mahasiswa, Rubrik CURHAT. Di rubrik curhat inilah aku mencoba keberuntungan. Waktu itu adik saya masih kuliah di bandung, kebetulan ia lagi libur. Dan saat ia libur itulah aku ajak ia untuk menengok Koran barangkali tulisan yang aku kirim dimuat. Betapa sedihnya aku ketika melihat kesana kemari sepertinya tulisanku tak dimuat, adikku berteriak “ Wah mas, ini fotomu, tulisanmu dimuat mas”?. Tulisan pendek itu berjudul “Demo mengapa tidak”, tulisan berisi tanggapan tatkala menanggapi bagaimana SPP naik tanpa penjelasan. Aku ungkapkan argumenku disana. Semenjak itulah aku mengenali cara berargumen di Koran.

            Di semester tiga aku pun mengenali rubrik “Bahasa Kita”. Melalui rubric ini, aku mulai berangan-angan kembali tulisanku muncul di rubric ini. Rubrik ini hadir di setiap hari kamis. Aku mulai mengamati dan menyusun-nyusun apa yang ada di Koran SOLO POS di setiap minggunya.  Di hari minggu rubrik jeda, ada halaman sastra ada puisi, cerpen, sampai resensi buku. Tetapi terkadang rubric ini diisi full oleh foto kiriman dari pembaca.

            Di hari senin, aku mengenali rubrik GAGASAN yang ditulis redaktur, atau jurnalis SOLO POS dan juga dari penulis umum. Hari selasa waktunya untuk mahasiswa mengeluarkan gagasannya di MIMBAR MAHASISWA. Di hari rabu diisi gagasan seperti biasa, hari kamis rubrik BAHASA KITA hadir disana, dan muncul pula rubrik JAGAD JAWA. Di hari jumat selain ada rubrik gagasan, ada pula rubrik khazanah, dan di hari sabtu ada rubrik DIDAKTIKA

            Semua rubrik itu aku kenali ada yang muncul (baru) ada yang lama pula. Seperti kolom DIDAKTIKA aku kenali ketika aku sudah lulus dan mengajar sebagai guru. Kebetulan aku rajin mengkliping tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Koran ini. Melalui Koran ini pula aku kemudian diundang oleh adek-adek pers fakultas yakni UKM FIGUR. Melalui UKM ini aku gunakan KORAN SOLO POS sebagai media pembelajaran untuk mengenal rubric dan berbagai isu seputar kedaerahan dan nasional yang ditampilkan SOLO POS. Aku mulai belajar mengenai bahasa dan karakteristik media melalui tajuk rencana yang tampil setiap harinya.

            Di SOLO POS ini pula kenangan tentang literasi hadir bersama Koran ini. Dulu, aku menulis dengan cara kuno, aku ketik dan kirim lewat amplop besar. Ku kirim dengan berkunjung ke koran ini. Sembari terus membaca, aku pun berdebar-debar tatkala tulisan demi tulisan muncul di koran ini. Melalui koran ini aku pun kemudian kenal dengan komunitas sastra pawon. Kenal dengan teman-teman literasi yang ada di Solo.

            Di tahun 2007, aku mulai belajar bersama teman-teman BILIK LITERASI. Aku belajar dengan mas Bandung Mawardi. Melalui mas Bandung Mawardi ini pula aku semakin kerap dimuat di koran ini. Aku rutin mengirim di rubric mimbar mahasiswa, mengirim di rubric gagasan dan rubric BAHASA KITA. Aku senang tatkala tulisanku muncul di rubric BAHASA KITA dulu aku menulis tentang bahasa iklan dan mengirim tentang bahasa yang dipakai Gus Dur yang sering mengucapkan “gitu aja kok repot”.

            Semasa mahasiswa, ketika BBM naik di masa SBY aku berdemonstrasi di balai kota. Aku ikut menekuni tema-tema neo liberalisme. Kenaikan BBM aku nilai sebagai hal yang tak wajar. Koran SOLO POS pun ikut memberitakan itu, maka setelah demonstrasi aku menulis di MIMBAR MAHASISWA : “ Sumber Daya Alam kita milik Siapa?”. Tulisan ini muncul di jaman SBY di tahun 2009.

            Kenangan bersama SOLO POS pun berlanjut. Aku melihat pelatihan jurnalistik di tahun 2010. Di tahun itu aku mengenali bagaimana cara menulis dari para redaktur SOLO POS. Aku juga mendapati pengenalan ulang tentang rubric yang ada di SOLO POS. Aku dipersilahkan untuk mengirim tulisan kesana. Dulu aku sering mengirim dan mengkliping setidaknya dua puluh lima tulisan pernah dimuat disana. Tapi setelah itu aku malas menghitung lagi berapa tulisan yang pernah dimuat di koran ini.

            Di ulangtahunku yang ke-26, aku menulis esai persembahan untuk semua, esai kecil ini berjudul “kelahiran” bersama esai ini aku alamatkan kepada SOLO POS pula. Dalam waktu-waktu yang panjang bersama SOLO POS aku mendapatkan honor dari tulisan-tulisanku. Honor bisa kugunakan untuk membeli buku, untuk makan dan keperluan hidupku. Setidaknya dalam hidupku, SOLO POS ikut memberi rasa kebahagiaan sebagai pembaca dan penulis di dalamnya. Aku ikut bahagia tatkala diundang bersama penulis SOLO POS lainnya. Disana aku seperti diajak untuk berembug, bukan lagi dalam hubungan antara pembaca dan koran, tetapi lebih dari itu, aku seperti merasakan ada ikatan keluarga antara aku dan SOLO POS.

Pemuatan Ganda dan absen tulisan

            Di tahun 2012, setelah lama sekali tulisanku tak keluar di koran ini, aku masih setia membaca dan membeli koran ini. Ada perasaan geram, tetapi hanya sesekali ketika ingat temanku sesame penulis yang mengalami nasib serupa. Budiawan pun merasakan sama seperti yang kurasakan tatkala mengirim puisi berkali-kali dan yang dimuat hanya beberapa saja. Cerita itu membuatku semakin mengerti, menulis memerlukan etos.

            Akhirnya tulisanku bertajuk “ Berpolitik adalah Beriklan” dimuat ganda di tahun 2012. Tulisan itu semula kukirim di SOLO POS, seminggu lebih aku tak sabar menanti, hampir dua minggu kurang sehari, kukirim tulisanku di Joglosemar. Tulisan pun dimuat di Joglosemar dan beruntun dua hari berikutnya muncul di SOLO POS. Aku merasa menyesal,karena keteledoranku inilah, hampir setengah tahun tulisanku absen, meski aku rajin mengirim.

            Maka setelah itu, aku menyapa kembali SOLO POS melalui rubric resensi di tiap minggunya. Aku mengirim resensi kesana, di tahun 2013, resensiku pun dimuat disana. Maka kubeli buku-buku baru, kubaca dan kuresensi disana. Semakin aku rajin membaca, resensiku pun semakin rutin dimuat. Aku merasa senang, dan semenjak tahun itu aku mulai membuat blog doeniaboekoe.blogspot.com. Blog kuisi pengalaman membaca buku-buku yang ikut bersamaku, dan kutautkan dengan peristiwa berliterasi bersama buku. Pelan-pelan tulisan di blogku pun mencapai seratusan lebih, aku turut senang sembari membagikan tulisan di blogku bagi para pembaca yang ingin membaca tulisanku. Aku bagi melalui twitter, fb, dan media sosial lainnya.

            Aku tak merasa sedih, apalagi kecewa lagi, aku memerlukan pembaca. Melalui SOLO POS itulah, aku bisa menemukan pembacaku aku yakini ikut mengikuti tulisan-tulisanku. Dari tulisan dan resensiku itu pula aku mendapatkan buku-buku baru lagi dan mendapatkan honor.

            Aku bersyukur rubric-rubrik di SOLO POS bertahan cukup lama, dan isi dari koran ini pun semakin berbobot. Tak hanya urusan lokalitas yang diangkat dan dibicarakan, tema-tema sensitive pun sempat mencuat dan menampar beberapa pihak. Seperti kampusku, koran ini pernah memuat headline tentang kos- esek-esek yang diduga sebagai tempat transaksi dan tempat para ayam-ayam kampus berkeliaran.

            Dari sinilah aku melihat koran ini tak hanya berani dalam mengangkat suatu peristiwa, tetapi membuat masyarakat bergerak bersama. Seiring di usianya yang sudah 18 ahun, aku menjadi bagian dari pembaca SOLO POS bersama pembaca lainnya. Membaca dan menulis di koran ini merupakan kebahagiaan tersendiri, bersama koran ini aku pun yakin kelak bisa tumbuh dan berdinamika bersama.

            Jargon “Meningkatkan Dinamika Masyarakat” memang tepat. Bersama koran ini, tak hanya isu pilkada, isu perkotaan, dan isu kebangsaan di bahas disana. Melalui koran ini pula, waktu-waktu tak bisa terlampaui begitu saja. Dokumentasi dan jejak karyaku ada di koran ini, bersama koran ini pula aku ikut menyuarakan apa yang ada dalam pikiran, sikap dan tindakanku. Dari itulah, aku merasakan ada hubungan yang melampaui antara penulis dan pembaca. Melalui koran ini, aku dipertemukan dengan peristiwa, kejadian dan orang-orang yang tak pernah aku duga sebelumnya. Begitu.

*) Penulis adalah Alumnus UMS, Pengasuh MIM PK Kartasura, Pegiat BILIK LITERASI SOLO

Ditulis pada Writing Contest | Tag , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Jurnalis, Jurnalisme, Homoseksualitas

Jurnalisme adalah subjektivitas. Jangan menggugat dulu. Pertama-tama, jurnalisme adalah aktivitas yang dilakukan jurnalis. Dalam aktivitas itu jurnalis tak bisa lepas dari subjektivitas.
Subjektivitas itu bisa berlatar belakang agama, pendidikan, pengalaman, bacaan, interaksi, lingkungan, komunitas, dan lain sebagainya. Kian banyak “subjektivitas” yang dimiliki jurnalis kian kayalah dia.
Kekayaan subjektivitas ini akan menentukan kemampuan jurnalis merumuskan “kode perilaku” yang diturunkan dari kode etik jurnalistik/jurnalisme. Sumber kode etik tentu saja nilai-nilai universal yang menjadi kerangka hidup manusia yang berkemanusiaan.
Bila dibahas lebih panjang dan lebar acap kali akan mengemuka pengalaman berbeda-beda di kalangan jurnalis ketika harus merumuskan kode perilaku yang menuntun dia menjalankan aktivitas jurnalisme yang ujungnya adalah berita yang dibaca, didengar, atau dilihat audiens.
Kita batasi saja konteks ruang dan waktu ihwal “subjektivitas” ini dalam tema pernikahan gay di Boyolali. Menurut saya ini menarik, dan penting, karena kemampuan jurnalis merumuskan kode perilaku dalam kegiatan jurnalisme dengan tema pernikahan gay di Boyolali ini akan menentukan banyak hal.
Di media sosial ada seorang kawan saya, dulu jurnalis di Kota Semarang, sekarang saya tak tahu apakah dia masih jurnalis atau tidak, menulis status “Boyolali heboh!”. Konteksnya tentu saja pemberitaan pernikahan gay itu.
Seorang kawan saya lainnya, bekas anggota DPRD Jawa Tengah, yang tinggal di Boyolali, mengunggah berita tentang pernikahan gay itu dan memberikan “afirmasi khusus” ihwal pernikahan sesama jenis itu.
Subjektivitas jurnalis ketika “menghadapi” fakta pernikahan gay, laki-laki yang punya orientasi seksual dengan sesama laki-laki, bisa saya pastikan, dibangun oleh latar belakang keyakinan atau agama yang dia anut dan kerangka budaya tempat dia lahir, tumbuh, dan berkembang.
Subjektivitas ini akan bertemu dengan kaidah nilai-nilai berita yang bisalah disebut sebagai laku dan pedoman mengobjektifkan laku jurnalis menjalankan jurnalisme. Saya berani memastikan, dalam perpaduan subjektivitas dan pedoman mengobjektifkan itu yang mengemuka cuma satu hal, eh dua hal, yaitu kontroversi dan konflik.
Kontroversi muncul dari pemahaman mayoritas masyarakat kita bahwa jenis kelamin dan orientasi seksual itu hanya dibangun oleh dua hal: laki-laki dan perempuan. Laki-laki harus berorientasi seksual terhadap perempuan, perempuan harus berorientasi seksual terhadap lakl-laki. Ketika ada laki-laki berorientasi seksual terhadap laki-laki atau perempuan terhadap perempuan, yang muncul ya kontroversi, sekontroversial ada manusia kok berkaki empat dan bertangan dua.
Konflik muncul dari pemahaman ihwal kontroversi tadi. Dari yang kontroversial itu mengemuka konflik antara pemahaman masyarakat luas dengan realitas atau fakta yang dihadapi, yaitu pernikahan gay. Dua hal ini yang membuat jurnalis “tertarik” menjadikan fakta yang dia hadapi, yaitu pernikahan gay di Boyolali, sebagai berita.
Kektika kekayaan subjektivitas si jurnalis berbeda-beda, kerangka pemberitaannya tentu akan berbeda pula. Jurnalis yang dominan “dikuasai” pemahaman doktrin bersumber agama pasti, saya berani memastikan nih, akan berpemahaman pernikahan gay itu “menyimpang”, “tidak benar”. “kotor”, “sampah”, “harus diluruskan”, “tak sesuai pemahaman masyarakat”. Kerangka demikian ini membuat jurnalis punya subjektivitas bahwa pernikahan gay itu “sangat menarik”, ya kerangka menariknya itu tadi…
Demikian pula dengan jurnalis yang subjektivitas memandang pernikahan gay ini didominasi keyakinan “jamak” masyarakat luas bahwa laki-laki ya seharusnya suka dengan perempuan dan perempuan ya seharusnya suak dengan laki-laki.
Kekayaan subjektivitas yang demikian ini akan menghasilkan berita yang sifatnya memberikan stigma kepada dua laki-laki yang “menikah” itu. Bila stigma dalam berita ini diulang-ulang dengan berbagai sudut pandang, misalnya afirmasi oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, psikolog, dan lain sebagainya pasti akan berujung pada “penistaan”.
Nah, term terakhir itu yang berbahaya dalam konteks ruang dan waktu di Soloraya, bahkan di Indonesia, yang mayoritas warganya adalah muslim (yang mayoritas punya pemahaman “tak punya toleransi” terhadap homoseksualitas) dan berpemahaman budaya laki-laki itu jodohnya ya perempuan dan perempuan jodohnya ya laki-laki.
Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dua laki-laki gay itu. Kemungkinan-kemungkinannya adalah: diusir dari rumah, diusir dari kampung halaman, didatangi rombongan orang yang meyakini homoseksualitas sebagai kotoran dunia dan akhirat, atau malah mereka berdua akan dibunuh.
Jurnalisme menghendaki jurnalis punya kekayaan subjektivitas yang berlimpah ruah sehingga mampu merumuskan kode perilaku sebagai terjemahan kode etik bersumber nilai-nilai universal untuk “mengolah” fakta yang dihadapi.
Dalam ruang dan waktu pembahasan ini, Aliansi Jurnalis Independen memberikan panduan pada Pasal 16 Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen: Jurnalis menolak kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa, agama, pandangan politik, orang berkebutuhan khusus atau latar belakang sosial lainnya.
Saya berpemahaman, Anda boleh tak setuju, ketika jurnalis beraktivitas, menjalankan jurnalisme, harus sudah selesai dengan subjektivitas-subjektivitas diri sendiri sehingga mampu merumuskan kode perilaku yang memenuhi tuntutan–yang mustahli–bahwa jurnalis harus “objektif”.
Dalam tataran teknis–sesuai kerangka ruang dan waktu pembahasan ini–jurnalis mampu menghasilkan berita tentang pernikahan gay yang nirstigma, nirpenistaan, tentu tanpa keharusan membela.
Saya punya tesis, yang harus dibuktikan, ketika dua orang gay itu “menikah” dan nekad membuat acara yang berakibat “pernikahan” keduanya ketahuan wartawan–dengan segala konsekuensinya tentu–karena mereka ingin mendapat pengakuan, mendapatkan ruang, sehingga mereka bisa “menikmati” hidup mereka.
Dalam konteks ini, jurnalis tak punya hak menistakan mereka, menstigma mereka, dan juga tak punya kewajiban membela mereka. Tapiiiii, jurnalis punya kewajiban membela mereka, ketika “pernikahan” mereka yang “terbuka” itu berbuah tindak kekerasan, penganiayaan, atau laku-laku nirkemanusiaan lainnya. Ingat, mereka juga manusia, manusia seutuhnya. Mereka punya hak sipil, hak perdata, dan hak kemanusiaan.
Susah ya….? Begitulah, jurnalisme memang susah. Ya cuma orang-orang cerdas dan bernurani saja yang bisa menjalankannya. Intinya, jangan sampai pemberitaan tentang “pernikahan” gay itu berbuah “penistaan” terhadap mereka. Sudah ah, kepanjangan…..

Ditulis pada Humaniora | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Solopos, Jendela Kabar Baik

Solopos, Jendela Kabar Baik

 

Sekira lima tahun yang lalu. Saya adalah seorang sarjana baru yang bekerja di sebuah perusahaan kontraktor lokal di kota Solo sebagai staf logistik proyek. Bagi saya bergelut dengan pekerjaan yang sangat berbeda dengan basis pendidikan, rawan kecelakaan kerja, dan dengan gaji pas-pasan, jauh lebih baik daripada menyandang status sarjana pengangguran dan membebani orangtua. Saya menjalani hari-hari di lokasi proyek yang panas dan kotor dengan sabar, sembari mencari peluang kerja lain dengan ikut beberapa tes CPNS.

Selasa pagi, 28 Desember 2010. Pesan masuk di ponsel dari seorang teman lama membuncahkan hati saya.

“Dwi selamat ya, kamu keterima CPNS Solo, coba lihat di Solopos”, begitu bunyi pesannya.

Dengan perasaan campur aduk antara terkejut dan tidak percaya, saya segera membeli  Solopos dalam perjalanan ke lokasi proyek, pada pengecer koran di lampu merah perempatan Ngemplak. Dan benar saja, nama saya lolos seleksi sebagai CPNS di Pemkot Surakarta.

Singkat cerita hari itu menjadi hari bahagia untuk saya. Tak pernah menyangka, selembar halaman Solopos menjadi jendela bagi perubahan nasib seorang anak tukang becak. Begitu mendapat telepon dari saya, ibu berlari sambil menangis haru meyampaikan kabar bahagia ini kepada Bapak yang berada di pangkalan becak selatan Pasar Nusukan. Sanak saudara, teman-teman dan para tetangga turut berbahagia. Para pekerja di proyek pun menyempatkan diri memberi selamat pada saya. Saya sangat bersyukur atas semua ini.

Namun ternyata nasib baik itu tak segera terealisasi. Lamanya proses administrasi pengangkatan CPNS mengharuskan saya untuk menunggu selama tiga bulan sebelum mulai bekerja di Pemkot Surakarta, sementara itu saya sudah mengundurkan diri dari pekerjaan lama. Tak hilang akal, untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya berusaha mencari pekerjaan paruh waktu sembari menunggu panggilan kerja. Akhirnya atas bantuan seorang teman saya bisa menjadi loper koran.

Menjadi loper koran mengharuskan saya bangun pagi-pagi buta. Menunggu kiriman koran di sudut palang kereta api Badran. Kemudian mengantarkan koran ke rumah-rumah pelanggan, dari daerah Tipes sampai Sawahan, sejak saat jalan-jalan kota Solo masih gelap dan lengang sampai penuh hiruk pikuk aktivitas warga. Meskipun berat namun saya senang menjalaninya. Karena selain saya mendapat penghasilan, saya juga bisa selalu mengetahui berita perkembangan proses pengangkatan CPNS, yang kebetulan selalu ada di Solopos.

Tak hanya sampai di situ. Berawal dari iseng-iseng mengisi dan mengirimkan jawaban Teka-Teki Silang Solopos yang saat itu hadir setiap edisi Selasa, nama saya kembali terpampang di koran kebanggaan Wong Solo ini sebagai pemenang Teka Teki Silang. Sungguh blessing in disguise.

Seminggu setelah saya menerima hadiah Rp 100 ribu dari Solopos, saya pun mulai bekerja di Pemerintah Kota Surakarta hingga saat ini. Sungguh Solopos telah menjadi jendela kabar baik dalam sepenggal perjalanan hidup saya. Dua edisi Solopos yang bersejarah itu saya simpan sebagai kenang-kenangan. Namun sayangnya tanpa saya ketahui kini koran itu telah hilang karena dipakai sebagai bungkus pecel dagangan ibu. #Soloensis

 

 Dwisan – Solo

Ditulis pada Writing Contest | Tag | Tinggalkan komentar

Kejutan SoloPos

Solo Pos adalah salah satu wadah media informasi dikota Solo yang sudah melalangbuana beberapa tahun. Solo Pos bukan hanya sebuah media cetak koran saja, seiring perjalanannya Solo Pos semakin mengembangkan sayapnya tak hanya di media cetak, semakin mengikuti era global yang semakin melesat, Solo Pos perlahan-lahan hadir juga dimedia gitial dalam situs solopos.com, disusul juga adanya Radio SoloPosFM, dan beberapa gebrakan yang Solo Pos lakukan untuk kota Slo dan Sekitarnya pastinya.

 

Selama saya tinggal di kota budaya ini, jika ditanyakan apa sih kenangan dengan Solo Pos, itu banyak banget. Salah satu hal yang saya masih ingat, sewaktu saya kelas 1 SMA sekitar tahun 2007, saya mencoba menuliskan di salah satu rublik GAUL yang hanya tayang dihari minggu. Ada salah satu tema tulisan yang mengangkan tentang “Ibu”. Saya pun yang Notabene bukan sekolah dijurusan Sastra, dengan ilmu menulis yang minim, saya mencoba mengirimkan artikel ke Solo Pos dengan tulisan tangan saya yang menceritakan “Saya dan Ibu”. Lalu saya pun mengirimkannya lewat Kantor Pos.

Selang seminggu kemudian, saya membeli kembali Koran Solo Pos di hari minggu, tak saya duga, tulisan saya yang bertemakan “Ibu” di muat dan bersanding dengan beberapa tulisan lainnya. Inilah awal mula saya menjadi tertarik dengan dunia tulis menulis. Saya pun langsung menghubungi informasi Solo Pos untuk mendapatkan hadiah menarik dari pihak Solo Pos, dan percaya atau tidak, itu adalah hadiah yang bagi saya diusia saya remaja adalah hadiah besar dan menambah semangat saya untuk menulis.

Nah… ditahun berikutnya, sewaktu saya kelas dua SMA. Saya mencoba menjadi WASIS, kebetulan ada salah satu kakak kelas saya menjadi WASIS-nya SOLO POS. Saya pun, mengirimkan tulisan saya dan mengikuti beberapa peraturannya. Namun, kali ini Solo Pos belum memberikan saya hadiah yang mengagumkan, karena saya belom LOLOS.

Kejadian itu bukan membuat saya patah semangat tentu tidak, mulai dari kegagalan tersebut malah justru saya menjadi mencintai dunia menulis. Saya masuk di salah satu kegiatan sekolah Buletin Sekolah waktu itu. Dan kegiatan menulis saya berlanjut hingga sekarang.

Ibarat Sahabat, bagi saya Solo Pos dan saya sudah layaknya seperti sahabat. sedari saya yang tidak mengerti dunia menulis hingga saat ini, saya masih berlangganan dengan Solo Pos. Sekarang saya sudah lulus Kuliah dan tahun kemarin tepatnya di HUT Solo Pos yang ke 17 tahun, saya berlangganan koran Solo Pos lalu ada undian menyambut HUT Solo POs yang ke Tujuh Belas Tahun. Dari salah satu agency langganan saya beriklan. saya pun menuliskan nama saya di kupon undian tersebut. Tanpa saya duga nama saya ada disalah satu pemenang yang dimuat di Koran Solo Pos.

Bagi saya, Kejutan Solo Pos untuk kehidupan saya amatlah sangat berharga dan berarti, tiap tahun, tiap moment yang dilewati antara Solo Pos dan saya memberikan kenangan tersendiri yang tidak dapat saya lupakan.

Terima Kasih Solo Pos yang selalu memberikan Kejutan – Kejutan di tiap Moment, semoga tak hanya sampai dengan tahun ini saja. Tapi harus tetap melejit dan Semakin mengepakkan sayap-nya, menjadi Koran di Kota Solo yang semakin berbobot tiap beritanya dan semakin banyak pelanggan setianya, serta terus diupgrade pembaruan-pembaruan baik di media cetak maupun di media digital.

Maju Terus Dunia Jurnalis. Selamat Hari Jadi ke 18 Tahun Solo Pos.

 

Melia Dwi Setyawan

Karyawan Swasta

 

Ditulis pada Writing Contest | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Bentuk Karakter Siswa Lewat SENI PANTOMIM

BENTUK KARAKTER SISWA LEWAT SENI PANTOMIM

(Salah Satu Implementasi Kurikulum 2013)

Oleh: Toat Kurniawan

Pendidikan merupakan salah satu akar dari kali pertamanya seseorang mengenal dan memahami ilmu pengetahuan. Salah satu di antaranya yaitu pengetahuan dalam membentuk karakter yang berkualitas dan berdaya saing. Lahirnya kurikulum 2013 menjadi angin segar yang mampu mendukung serta membentuk peserta didik lebih aktif dan mandiri dalam kegiatan pembelajaran. Mengapa bisa demikian? Bukan tidak mungkin, kurikulum 2013 memuat kontekstual yang dapat dilakukan ke dalam berbagai media apresiasi siswa. Sebut saja seni peran. Secara garis besar, pembentukkan karakter di dalam seni peran sangat relevan dan mempunyai kepaduan. Siswa diajak memahami penokohan dan menjiwai dalam setiap peran yang dimainkan.

Seni Pantomim akhir-akhir ini mulai marak kita temui di dunia maya namun masih jarang kita temui dalam pertunjukkan yang rutin seperti halnya seni peran lainnya. Pantomim merupakan bagian dari pertunjukkan teater yang menjadi dasar dalam bermain peran. Seni peran yang unik dan mampu melatih pembentukkan karakter siswa khususnya tingkat sekolah dasar dengan tema-tema yang disajikan secara sederhana. Pada prinsipnya, pantomim hanya mengandalkan teknik gerakan dan ekspresi yang diperankan untuk mentransfer maksud serta amanat yang disampaikan oleh pemeran.  Lucu, unik, dan menarik, menjadi unsur motivasi yang sangat digemari anak usia dini di sekolah dasar. Hal tersebut terbukti dengan mulai munculnya berbagai event perlombaan salah satunya Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang rutin diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun. Penerapan ini tidak lain sebagai salah satu penunjang muatan kurikulum 2013 dalam kajian pembentukkan karakter siswa. Secara umum, memang pantomim masih jarang terdengar dan dilihat oleh kaum awam bila dibandingkan dengan seni peran lainnya, seperti teater. Hal tersebut dikarenakan para pegiat dan peminatnya kurang begitu memahami teori dan praktiknya. Tema-tema yang sederhana sering diangkat dan menjadi seri cerita dalam pementasan pantomim. Seperti dalam sajian televisi dahulu Den Baguse Ngarso, yang identik lucu dan mengundang gelak tawa bagi mereka yang menyaksikan. Pemeran hanya melakukan gerakan serta ekspresi/mimik yang mendukung gerakan tersebut agar lebih tegas dan realistis.

Imajinasi yang dibentuk lebih dalam dan detail, kita berusaha mengadakan sesuatu yang tidak ada seolah-olah menjadi ada dan sedang kita gunakan. Misalnya, karakter ketika sedang makan, minum, membersihkan halaman, dan lain sebagainya hanya dengan gerakan dan mimik tanpa dialog. Pantomim dituntut tanpa dialog hanya dengan bantuan music backsound yang mampu menghidupkan suasana dalam pengisahan yang terjadi. Misalnya, suasana tegang, sedih, dan gembira terangkum di dalamnya. Di samping itu, anak-anak usia dini sekolah dasar akan lebih menyukai lagi karena menggunakan make-up putih-putih di bagian wajah serta pakaian warna salur hitam putih, yang menjadi khas dari seni pantomim. Terkesan lucu dan mengundang perhatian kepada penonton, itulah pantomim.

Di Indonesia tokoh-tokoh pantomim hampir dan jarang kita temui. Salah satunya yaitu Kak Septian Dwi Cahyo seorang aktor film sekaligur mimer yang dikenal dan sering kita lihat di layar kaca. Dia menjadi idola anak-anak yang akan berlatih bermain pantomim. Pada dasarnya, membentuk karakter dalam seni pantomim tidak lah rumit, kita tinggal mengajarkan cara imajinasi apa yang akan kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di sekolah, dan dalam pergaulan, yang tidak banyak membutuhkan banyak penafsiran dari setiap pertunjukkan. Bukankah itu hal yang menarik, bukan? Oleh karena itu, sebagai pendidik dan pegiat seni peran, ini menjadi media serta daya tarik dalam mengapresiasikannya. Secara otomatis, dalam imajinasi yang dilakukan akan melahirkan karakter dari setiap perilaku dan tindakan. Jadi kita dapat menjadikan seni peran yang satu ini sebagai salah satu pilihan tepat bagi para anak usia dini di sekolah dasar. Gerakan, ekspresi, dan dukungan musik menjadi resep dalam pelatihan pantomim dengan mudah dan cepat guna membentuk karakter anak atau peserta didik  yang  lebih berkualitas serta mempunyai sarana hiburan yang menarik bagi mereka.

Toat Kurniawan, Pantomim Sukoharjo.

 

Ditulis pada Humaniora | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Secangkir Siang Bersama SOLOPOS

 

Secangkir siang bersama Solopos itulah salah satu kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan pengalaman menarik, penuh keakraban, serta kesan tersendiri. Siang itu bulan Desember 2012 pukul 13.25 WIB silam, saya mendapatkan inbok email dari Solopos yang berisi Kunjungan Jurnalist Goes to School with Suzuki Next. Kebetulan saat itu saya sebagai Pimpro Rumah Bahasa dan Sastra di SMA Negeri 1 Tawangsari Sukoharjo sedang mengadakan agenda rutin redaksi majalah di sekolah kami, sebut saja MEDIASI. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini merupakan waktu dan kesempatan yang tepat untuk belajar menimba ilmu khususnya di bidang Jurnalis untuk siswa SMA di tempat kami.

Gratis alias Cuma-Cuma. Begitulah jawabnya ketika saya mengonfirmasikan kepada pihak Solopos waktu itu, karna memang merupakan bagian kepedulian serta promosi Solopos khususnya terhadap dunia pendidikan di sekolah. Setelah koordinasi matang, akhirnya 15 Desember 2012 Solopos resmi singgah di sekolahan kami. Mereka datang satu kru bersama narasumber jurnalis senior Solopos yang nantinya akan mengajak kami berbagi ilmu dan saling bertukar pikiran. Ruangan bahasa bagian selatan, itulah tempat kami berbagi sesiang bersama Solopos. kira-kira 100 meter dari arah lobi sekolah. Beberapa kru Solopos telah duduk di tempat masing-masing, spanduk acara terpasang rapi di bagian depan yang bertuliskan Jurnalist Goes to School: Solopos with Rumah Bahasa.

Setelah penyambutan dan pembukaan selesai, masuk lah pada kajian inti pertemuan siang itu. Beberapa saat materi di slide serta dipaparkan panjang lebar kepada kami. Sungguh saya tidak mengira, sangat jauh berbeda dengan pertemuan rutin pengurus redaksi MEDIASI di sekolahan kami. Siswa bukan hanya terlihat antusias tetapi juga produktif dalam menggali berbagai masalah dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada narasumber. Beberapa diantaranya, Bagaimanakah tips menulis yang baik dan benar di surat kabar, Berita dan tulisan apa sajakah yang layak terbit, Bagaimana membagi dan meliput berita yang sama-sama penting dalam waktu yang sama, serta proses pengerjakan surat kabar solopos dari pencarian berita sampai penerbitan. Pokoknya kumplit dan sangat membantu kami dalam berkarya, terutama dunia bahasa tulis-menulis. Oh,ya, waktu itu ada satu siswa saya yang bertanya unik. “Kak, kenapa tulisan saya belum pernah sekali pun dimuat Solopos, apa itu ada yang keliru, padahal sudah bagus, lho” ujarnya genit membuat seisi ruangan lepas terbawak-bawak. “Pada dasarnya semua tulisan yang masuk ke Solopos tidak sertamerta dimuat begitu saja, harus dengan pengidentifikasian secara seksama, intinya tidak asal-asalan” begitulah jawabnya sambil mengacungkan jempol kepada siswa itu.

Suasana semakin hangat dan bersahaja, terbuka dan penuh canda. Apalagi diluar sebagian teman-teman rumah bahasa sudah menunggu kru dari sponsorship Solopos untuk test drive waktu itu. Hingga terik yang menganga ikut tumpah bersama kami siang itu. Dua kata “luar biasa”, bukan? Kami kembali masuk ke ruang bahasa, selanjutnya kru jurnalis Solopos memberikan simpulan dari seluruh kajian dari pertemuan itu. “Hakikatnya menulis adalah kegiatan yang mengasikkan. Berbagai hal dapat kita tuangkan di dalamnya sebagai wujud media apresiasi tersendiri” begitulah tandasnya. Bagi saya, menulis adalah pekerjaan pengabadian, di dalamnya kita tidak akan pernah hilang dari waktu dan sejarah; kekal, itulah MENULIS. Maka dari itu, pengalaman bersama Solopos ini menjadi salah satu motivasi siswa untuk menumbuhkan minat di dalam keterampilan menulis khususnya di media massa.

 Hingga pada akhirnya, saya dan siswa-siswa memberikan surprise kepada mereka, yaitu tropi kenang-kenangan kepada Solopos lalu foto bersama. Hingga beberapa hari kemudian, pertemuan kami siang itu ternyata dimuat redaksi Solopos. Dengan riang nya mereka (siswa) memberitahukan via pesan singkat kepada saya “Pak, Rumah Bahasa kemarin dimuat Solopos, Loh…hehee” ujarnya. “Kalian memang patut dibanggakan, terima kasih lah kepada Solopos. Selamat berkarya!” jawab saya.

Terima kasih SOLOPOS. Khususnya tim promosi dan jurnalis Solopos yang telah memberikan kami Secangkir Siang yang sangat bermanfaat.

Selamat Ulang tahun SOLOPOS. Tetaplah berkarya!

 

Toat Kurniawan 

Pimpro Rumah Bahasa dan Sastra

SMA Negeri Tawangsari Sukoharjo

 

            #Soloensis

 

 

 

Ditulis pada Writing Contest | Tag , , | Tinggalkan komentar

Gara-gara Solopos, Terkenal Sebagai Penulis

Pembaca, perkenalkan, nama saya Nurul Qomariyah. Saya seorang pengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyyah /MI (setingkat SD) di sebuah desa bernama Ngreco di kecamatan Weru kabupaten Sukoharjo. Saya mulai mengenal Solopos saat teman saya memposting hasil karyanya yang dipublikasikan di koran tersebut di facebook. Sebenarnya untuk kelas penulis kenamaan  tidak terlalu keren juga karena hanya sekelas rubrik “Ah Tenane”, tapi untuk selevel saya yang tidak suka dan buta menulis, itu sudah sangat hebat sekali.

Oh ya, anda jangan berbaik sangka dulu, jangan karena saya seorang pengajar  terus anda berpikir saya bisa menulis, tidak. Pengajar itu sama seperti non pengajar, kebanyakan tidak suka dan tidak bisa menulis (jangan bilang-bilang ya!).  Kira-kira cara berfikirnya begini, apa betul yang kerja di warung nasi itu bisa masak?, tidak kan? karena ada yang tugasnya mencuci piring, melayani pembeli, dan lain-lain.

Intinya, saya tidak bisa menulis, titik. Apalagi jika mengingat saya sebenarnya pengajar dengan basik keilmuan Pendidikan Bahasa Arab yang meskipun sama-sama bahasa tapi sangat berbeda sekali. Nah, saat saya lihat postingan temen tadi itu akhirnya saya ngidam pengen menulis dan muncul di koran, meski itu tadi, hanya sekelas rubrik “Ah tenane” untuk penulis sangat pemula. Akhirnya, target pertama adalah menulis di “Ah tenane”.

Pembaca, tahu dong rasanya orang ngidam, segala cara mulai dari tanya sana-sini, searching google, melototin “Ah tenane” untuk mempelajari bahasa (umum)nya dan lain-lain. Terus akhirnya saya buat satu dua cerita kemudian saya baca ulang-ulang, saya edit lagi kalau merasakan ada kalimat yang aneh dan terus mutar-muter seperti itu. Setelah cape dan dirasa sempurna, saya emailkan ke temen yang tulisannya pernah diposting itu. Saya bilang saja ; “Tolong diedit ya, maaf kalau kalimatnya tidak bagus. Maklum, itu tulisan pertama, hehe..”.

Satu hari tidak dibales, dua hari juga belum dibales. Alhamdulillah, hari ke-tiga saat saya cek email, ada email baru di sela-sela email kantor. “Maaf lama, selamat sudah bisa menjadi Penulis..”, begitu kalimat subyek dari email itu. Langsung saya buka kemudian saya download lampiran tulisannya dan saya baca-baca. Wah, ternyata tulisannya sudah sedemikian rupa berubah. Kok bisa ya, cerita-cerita saya kok sepertinya dia malah lebih tahu ceritanya dibanding saya.

Nah, setelah ngobrol dengan teman saya tersebut via WhatsApp, saya dapat ilmu tuh tentang tulis menulis. Katanya nih, menulis itu bermula dari membaca. Setelah banyak membaca, pasti seseorang punya banyak bekal untuk menulis. Begitu jawaban filosofisnya tentang menulis.

Singkat cerita setelah tulisan saya emailkan ke redaksi solopos, setelah tiap hari dengan sabar melihat koran  harian solopos versi online, akhirnya tidak sampai seminggu tulisan saya muncul dan langsung deh saya posting di facebook. Haha, sombong banget, baru saja muncul di rubrik ‘Ah tenane’.

Langsung deh, teman seantoro dunia maya langsung gempar dan heboh seperti ada berita kabut asap di kalimantan. Secara, saya yang tidak pernah menulis kok bisa muncul. Tidak ketinggalan Kepala sekolah di tempat saya mengajar juga ikut memberikan ucapan selamat dan komentar positif yang membuat saya menjadi besar hati.

Lebih hebohnya lagi, saat ada rapat kepala MI di sekolah saya. Kepala sekolah dengan santainya mempromosikan bahwa ada salah satu pengajarnya yang bisa menulis dan tulisannya dipublikasi di Solopos. Heboh kan? Ya heboh sekali kalau menurut saya. Bagaimana tidak heboh, saya jadi perbincangan di rapat sekelas Kepala Sekolah dasar dan hebohnya lagi, mereka tidak tahu kalau tulisannya hanya sekedar rubrik ‘Ah tenane’ dan bukan sekelas kolom Artikel.

Pembaca, yang jelas saya terlanjur terkenal sebagai penulis yang menurut saya sangat tidak layak. Agar tidak membuat malu, saya terus mencoba menulis meki masih sebatas rubrik ‘Ah tenane’ yang alhamdulillah kalau tidak salah sudah dua/tiga kali tulisanku dipublikasi.

Untuk menguatkan dugaan mereka bahwa saya seorang penulis, akhirnya saya juga mencoba menulis di kolom Didaktika yang menerima tulisan seputar pendidikan, sekolah dan permasalahan belajar mengajar lainnya. Syukurlah, setelah tiga-empat kali mencoba mengirim, akhirnya tulisanku ada yang layak dan dipublikasikan di rubrik Didaktika yang bisa dikatakan rubrik artikel pendek. Sangat lumayan sekali, berbekal terlanjur terkenal menjadi penulis, akhirnya saya menjadi penulisan betulan, meski hanya selevel kolom Didaktika(menurut info, kolom ini telah ditiadakan).

Pembaca, begitu pengalaman menyenangkan dan hebatku dengan Solopos. Meski mungkin bagi pembaca itu tidak terlalu wah, bagi saya itu sangat wah sekali.

Salam Soloensis… Hidup Soloensis!!! Hidup Solopos!!!

Nurul Qomariyah

Pengajar MI Muh Sidowayah Ngreco Weru SKH

Ditulis pada Writing Contest | Tinggalkan komentar

Membaca Kebudayaan dan Peran Negara

Di laman pribadinya, pada Agustus 2013, dalam sebuah esai singkat, Windu Nuryanti yang pernah menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mempertanyakan di mana peran pemerintah dalam pembangunan kebudayaan?

Pertanyaan ini juga selalu mengemuka di kalangan akar rumput pelaku kebudayaan. Mereka berada di ranah seni, ranah kearifan lokal dalam berbagai sektor kehidupan, ranah pendidikan formal dan informal, dan ranah kehidupan lainnya yang tak pernah lepas dari kebudayaan.

Pertanyaan ini intensif mengemuka setidaknya dalam satu dekade terakhir. Dalam perjumpaan saya dengan kalangan pelaku budaya di berbagai komunitas di Soloraya, Surabaya, Bojonegoro, Jogja, dan Semarang, pertanyaan tentang apa yang diperbuat negara untuk kebudayaan selalu muncul.

Saya rasa tak ada seorang pun yang tak sepakat bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat yang menjiwai kreativitas budayadalam berbagai ranah kehidupan itumemang memerlukan perlindungan formal, butuh perlindungan dan dukungan negara.

Saya sepakat dengan pendapat Windu Nuryanti yang dia kemukakan dalam esai di laman pribadinya itu bahwa negara mempunyai kewajiban menjamin kelangsungan kreativitas budaya masyarakat negeri ini. Dalam tataran formal kenegaraan, di sinilah undang-undang kebudayaan diperlukan.

Hari-hari ini, ihwal UU tentang kebudayaan ini mengemuka di berbagai ruang publik, ruang publik nyata maupun ruang publik maya (Internet), setelah term kretek, yang tak lain adalah rokok kretek, muncul dalam Rancangan Undang-Undang tentang Kebudayaan (RUU Kebudayaan) yang saat ini masih dalam tahap harmonisasi di Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat.

Tajuk Solopos edisi Jumat (2/10) menilai RUU Kebudayaan ini harus ditinjau ulang. Peninjauan ulang bukan semata-mata karena kemunculan term kretek sebagai warisan kebudayaan Indonesia yang harus dilestarikan.

Term satu ini memang memunculkan kontroversi karena ada konflik keras dalam kretek yang melibatkan isu kebudayaan, kesehatan, cukai rokok, dan pembelaan terhadap petani tembakau.

Peninjauan ulang RUU Kebudayaan penting karena term kretek ini ternyata semacam puncak gunung es dari substansi RUU Kebudayaan yang malah tak berpihak kepada kebudayaan. Hasrat perumusan dan pemberlakukan UU Kebudayaan adalah untuk melindungi kebudayaan Indonesia.

Frasa melindungi kebudayaan Indonesia inilah yang mengemuka, setidaknya, dalam satu dekade terakhir ketika banyak elemen masyarakat kebudayaan mempertanyakan di mana peran negara dalam pembangunan kebudayaan.

Ketika RUU Kebudayaan terwujud dan kemudian masuk dalam proses formal legislasi, ternyata substansinya masih jauh dari hakikat menjawab pertanyaan di mana peran negara dalam pembangunan kebudayaan?

Tajuk Solopos edisi Jumat pekan lalu menyimpulkan RUU Kebudayaan mengandung sesat pikir. Asumsi-asumsi yang mendasarinya banyak yang keliru, yang mengemuka sebagai substansi adalah mengontrol dan menguasai. RUU Kebudayaan bersifat membatasi sesuatu yang mestinya dibiarkan berkembang sebagai kekayaan  bangsa.

Terkait term ”kretek” yang secara khusus muncul jadi hal istimewa dalam RUU Kebudayaan, saya teringat ”ocehan” wartawan senior yang kini jadi pendeta Hindu di Bali, Putu Setia. Melalui akun Twitter-nya @mpujayaprema, pekan lalu, Putu ”menggugat” kemunculan “kretek” sebagai warisan kebudayaan Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.

Menurut dia, masih banyak hal lain dalam kebudayaan Indonesia yang jauh lebih penting daripada kretek untuk dilestarikan. RUU Kebudayaan itu tak jelas maunya. RUU Kebudayaan itu laksana hendak menggantikan UU Cagar Budaya.

Saat itu saya merespons “ocehan” @mpujayaprema dengan mengusulkan agar egrang juga masuk RUU Kebudayaan. Putu Setia menyebut kalau kretek bisa jadi hal istimewa di RUU Kebudayaan mestinya layang-layang yang juga merupakan salah satu aspek kebudayaan manusia Indonesia juga harus masuk.

Saya menangkap ada kegelisahan dalam ”ocehan” Putu Setia itu yang sumbernya tak lain kegagalan mengidentifikasi roh kebudayaan yang harus dimasukkan dalam RUU Kebudayaan dan kemudian melahirkan kebijakan negara melindungi kebudayaan.

 

Perspektif

Ketika memikirkan kontroversi kretek dalam RUU Kebudayaan, saya teringat buku yang belum lama terbit, berjudul Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia, Kajian Budaya Selama Abad ke-20 Hingga Era Reformasi.

Buku itu karya Tod Jones dan diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia atau Buku Obor dan KITLV Jakarta. Buku tersebut terbit pada Februari 2015.

Di bagian awal buku ini ada pembahasan khusus ihwal perspektif-perspektif kajian budaya. Perspektif pertama adalah ekonomi budaya yang membawa teori ekonomi pada bidang kegiatan budaya.

Banyak peneliti di bidang ekonomi budaya berpendapat prinsi-prinsip ekonomi budaya adalah perangkan metodologis individualism dan pilihan rasional yang lebih memperkuat pemisahan negara dan masyarakat serta mengabaikan kenyataan pilihan rasional itu sangat subjektif dan bersaing.

Perspektif kedua adalah regenerasi melalui budaya. Perspektif ini mengakui kegunana budaya sebagai alat negara. Definisi kebudayaan diperluas untuk mencakup industri budaya, seperti media, mode, rekreasi, dan pariwisata; kegiatan kelompok-kelompok komunitas atau masyarakat’ gaya hidup; dan warisan, bersama dengan seni.

Dalam perspektif ini kebudayaan menjadi sarana menghasilkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja serta alat bagi masyarakat membangun dan menciptakan kualitas hidup.

Perkembangan saat ini terhadap industry-industri budaya dan perdebatan tentang kota-kota kreatif dan kelas atau komunitas kreatif sering kali merupakan perpanjangan dari pendekatan perspektif ini.

Perspektif ketiga tentang kebijakan budaya membutuhkan pandangan yang lebih luas dan lebih kritis tentang apa itu kebijakan budaya dan apa yang dilakukannya. Fokusnya adalah isu-isu pembentukan identitas dan kekuasaan yang terdapat dalam hubungan budaya antara lembaga dan rakyat.

Selama ini, kebudayaan di negeri ini masih selalu di wilayah pinggiran, jauh dari arus besar pembangunan negeri ini. Banyak yang berpikir kebudayaan hanyalah seni dan hiburan seperti panggung ketoprak, wayang orang, karawitan, konser, lain sebagainya.

Koenjaraningrat menyatakan kebudayaan lebih luas dari itu. Kebudayaan adalah adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia itu, yang di dalamnya tercakup nilai-nilai, menjadikan manusia belajar dan mengajar sesama manusia cara berpikir, cara makan, cara bersopan santun, cara menghargai pemimpin, cara melaut, cara bertani, bertoleransi, dan dimensi-dimensi immaterial lainnya.

Tanpa kebudayaan, kita tak mungkin punya sejarah yang adiluhung, kita tak mungkin punya karakter dan jati diri. Kebudayaanlah yang memberi kita Candi Prambanan, kompleks Keraton Ratu Boko, Candi Borobudur, ketoprak, wayang orang, karawitan, gong kebyar, upacara-upacara, karya-karya seni, lurik, batik, sarung goyor, tembang macapat, dan karya-karya budaya yang tidak mungkin dicapai melalui politik ataupun ekonomi.

Kesadaran tentang hal-hal inilah yang seharusnya menjiwai RUU Kkebudayaan. Saya teringat tulisan dan ungkapan nostalgia beberapa orang yang selama ini bergelut di sektor kebudayaan, antara lain Halim H.D. dan Mbah Prapto (Suprapto Suryodarmo), ihwal prestasi yang berhasil dirasih sektor kebudayaan di Soloraya. Halim pernah menuliskan kejayaan Taman Budaya Surakarta (TBS) saat dikelola Murtidjono.

Ketika itu jaringan kebudayaan terbina dengan baik. Solo menjadi kawah candradimuka bagi seniman dan budayawan untuk menghasilkan karya yang kemudian mewarnai secara dominan perkembangan kebudayaan kita. Ihwal karya nyata taman budayaera dulujuga dibahas dalam buku Tod Jones.

Mbah Prapto sampai kini konsisten berkarya dengan jaringan internasional yang kian berkembang dan menghasilkan nuansa-nuansa kebudayaan tradisional maupun kontemporer yang diakui dunia dan itu tentu saja asalnya dari Indonesia.

Para perumus RUU Kebudayaan itu harus menziarahi seluruh pelosok negeri ini untuk menangkap roh kebudayaan yang nyata, roh kebudayaan hakiki, hal substansial yang kemudian bisa dirumuskan dalam sebuah RUU yang bertujuan melindungi, menjaga, memberdayakan, dan mengembangkan kebudayaan kita.

Mengutip esai Windu Nuryanti yang dibikin pada 2013 dan diunggah di laman pribadinya, tiga kerangka utama harus menjadi fokus perumusan RUU Kebudayaan, yaitu perlindungan, penjaminan, dan pelayanan.  Perlindungan tidak hanya upaya menghindarkan klaim asing atas karya budaya, tetapi juga melindungi masyarakat pencipta karya tersebut dari proses-proses komodifikasi kapital yang merugikan mereka.

Penjaminan adalah kebijakan legal untuk menjaga, mendorong, dan menyubsidi kelangsungan seluruh kreativitas budaya sehingga kreativitas budaya itu menjadi sumber-sumber penghidupan masyarakat. Pelayanan menjadi kata kunci posisi pemerintah dalam proses-proses budaya itu. Pemerintah tidak hanya mengintervensi, namun memfasilitasi inovasi dan kreativitas dinamika kebudayaan. Sudahkan ini semua menjadi dasar penyusunan RUU Kebudayaan? (Ichwan Prasetyo, esai ini dimuat Solopos edisi Senin 5 Oktober 2015)

 

Ditulis pada Humaniora | Tinggalkan komentar