Siapa yang tak kenal SOLOPOS? Surat kabar yang memiliki tempat teristimewa dihati masyarakat yang kini masih sukses dalam mempertahankan eksistensinya. Semua kalangan masyarakat dapat menikmatinya. Baik tua, muda, anak-anak, pekerja kantoran, hingga para pensiunan pun menyukainya. Tidak hanya tajam, sebagai media SOLOPOS juga memberikan sisi-sisi hiburan yang tidak hanya bersifat menghibur, melainkan juga mendidik para pembaca.
Sejak Usia Lima Tahun
Pertama kali saya mengenal SOLOPOS yaitu sejak usia lima tahun. Waktu itu tanggal 4 Oktober 1998, saya mengikuti lomba mewarnai gambar dalam rangka HUT ke-1 SOLOPOS. Lomba diadakan di kantor SKH SOLOPOS yang pada saat itu yang masih beralamat di Jalan Slamet Riyadi. Seperti anak TK pada umumnya, saya bersemangat dan bergembira. Saya berangkat pagi-pagi sekali dengan menggendong tas berisi bekal dan pensil warna serta botol minum berselempang. Saya sempat pesimis karena pewarnanya sedikit dengan hanya 12 varian warna saja, sedangkan peserta disebelah saya menggunakan krayon sekoper. Dipikiran saya waktu itu yang penting saya harus menyelesaikan dan mewarnai gambar dengan penuh, rapi, dan tidak bolong-bolong. Eh, tidak disangka-sangka saya menjadi finalis. Bu guru saya pun senang. Sedangkan saya yang pada saat itu belum memahami konsep kompetisi kemudian bergembira. Sejak saat itu, lomba mewarnai diSOLOPOS lah yang membuat titik balik saya dan membentuk karakter sebagai seorang yang pantang menyerah.
Karyaku
Semenjak saat itu saya mulai suka menggambar. Entah gambar badut, ikan, kebun binatang, air terjun, dan lain-lain yang beberapa kali dimuat. Saya sendiri juga kadang lupa gambar yang mana saja. Karena sering dimuat itulah saya sering keluar masuk kantor SOLOPOS. Mulai saat itu saya jadi kolektor voucher dan hadiah. Mulai dari buku cerita, tas, t-shirt, hingga voucher bermain di salah satu wahana bermain anak disalah satu pusat perbelanjaan Pabelan, Kartasura.
Ada satu buah karya yang membuat saya teringat sampai sekarang. Karya yang saya buat adalah gambar seekor katak raksasa. Entah sejak kapan gambar itu dijadikan ikon/gambar pendukung iklan lomba menggambar yang diadakan oleh SOLOPOS. Hanya ada dua gambar, gambar katak raksasa milik saya dan gambar Sun-Go-Ku yang dibuat oleh seorang anak laki-laki. Saya senang karena iklan itu muncul setiap hari yang artinya gambar saya akan dimuat setiap hari pula.
Romantisme dalam Sajak Remaja
Saya pun tumbuh dan berkembang sebagai remaja pada umumnya. Perkembangan gejolak emosi dan dinamika pertemanan yang saya alami membuat saya membutuhkan ruang ekspresi untuk menumpahkannya. Salah satu puisi yang pernah dimuat adalah”Aku Ingin Menjadi Rindu”. Puisi yang pernah saya tulis tersebut pernah ketahuan oleh teman SMP dan jadilah SOLOPOS dibawa ke kelas oleh teman-teman dan dibaca beramai-ramai.
Koplonya Jon Koplo
Semua pembaca setia SOLOPOS pasti akan geli jika membaca tingkah laku konyol Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk, dan Genduk Nicole. Jika SOLOPOS sudah ada ditangan, pasti saya akan mengedarkan pandangan ke bagian pojok bawah. Secara personal, saya ngefans dengan ilustrator dan creator karakter gambar Jon Koplo dan kawan-kawan. Saya juga mengamati ilustrasi gambar-gambar koran lain yang karakternya agak-agak mirip dengan Jon Koplo. Saya kemudian berpikir, entah sampai kapan Jon Koplo tidak koplo lagi.
Peperangan Teka-Teki Silang
Berbeda dengan saya, teka-teki silang merupakan salah satu rubrik terfavorit ayah dan ibu di rumah. Biasanya eyel-eyelan pun terjadi ketika ada satu nomor yang salah yang membuat nomor-nomor lainnya bubar. Jadilah salah satu dari ayah atau ibu harus mengulanginya lagi.
Intelektualitas dalam Mimbar Mahasiswa
Sebagai seorang dewasa muda, pemikiran-pemikiran saya yang semakin lama semakin berkembang biak menjadikan saya membutuhkan sebuah wadah untuk mengekspresikannya. Mahasiswa sebagai cendekiawan muda harus peka terhadap situasi dan konflik terkini yang bisa dikaitkan dengan apa yang telah dipelajari di perguruan tinggi. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Juni, saya mencoba untuk menyoroti kasus Angeline dalam perspektif psikologi. Selain mengasah kemampuan analisis, buah tulisan yang kita buat bisa memantik paradigma orang lain dan kemungkinan memberikan ide yang baru bagi orang lain.
Tak terasa, sekarang saya berusia 22 tahun. SOLOPOS telah menemani saya dari saya masih kecil hingga sekarang. Harapan saya semoga SOLOPOS semakin maju, semakin berkualitas, dan semakin memberikan banyak manfaat bagi orang lain.
Ini ceritaku, mana ceritamu?
#soloensis

