28 Tahun telah berlalu, namun ingatan mengenai peristiwa 1998 masih terpendam pada memori. Sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di STSI Solo, pada waktu itu situasi sudah mengalami gesekan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang selama ini tidak pernah ikut dalam aksi mulai bergabung pada 29 April 1998.
Inilah potret para demonstrasi sebelum terjadinya kerusuhan puncak pada 14 Mei 1998. Ketegangan yang awalnya berupa orasi dan tuntutan damai perlahan berubah menjadi situasi yang lebih panas, ditandai dengan aksi saling dorong dan gesekan fisik di antara kedua kubu. Interaksi yang semakin intens tersebut akhirnya memicu kericuhan yang sulit dikendalikan. Kejadian ini selanjutnya menjadi bagian dari perjalanan panjang pergerakan mahasiswa yang mencapai klimaksnya pada pertengahan Mei 1998, sebuah momen krusial dalam catatan sejarah Indonesia.

Solopos: Demonstrasi STSI solo
6 Mei 1998: Mensikapi Kondisi Politik Indonesia
Terlihat kelompok massa mulai melakukan aksi pembakaran seiring dengan situasi yang semakin memanas. Para pengunjuk rasa bergerak bersama, kompak dalam satu suara, bersatu dalam gelombang dukungan mahasiswa yang kian besar. Pada minggu itu, Kota Bengawan benar-benar dilanda kerusuhan, dan bentrokan terjadi di berbagai lokasi, membuat suasana kota menjadi tegang dan tidak kondusif.
Aksi yang terjadi di STSI Solo juga menjadi salah satu momen yang signifikan. Ini bukan hanya tentang beraksi di jalanan, melainkan juga sebagai reaksi terhadap situasi politik di Indonesia yang tengah kacau. Mahasiswa mengungkapkan aspirasi reformasi dengan semangat yang semakin kuat dan jelas. Dari awalnya yang merupakan demonstrasi damai, perlahan-lahan menjadi lebih serius, menunjukkan seberapa besar beban dan kecemasan yang dirasakan pada saat itu.

Dokumen Solopos: Massa berbondong-bondong menyuarakan aspirasi
Rombongan mahasiswa terlihat berbondong-bondong turun ke jalan, melakukan aksi arak-arakan yang jadi gambaran nyata situasi saat itu. Mereka berjalan dalam antrean panjang, dipenuhi semangat, dengan teriakan nyaring yang terus menggema di sekeliling jalan. Spanduk yang bertuliskan “Reformasi” dikibarkan, seolah menjadi lambang dari ketidakpuasan sekaligus harapan, bahwa situasi politik Indonesia pada waktu itu tidak dalam keadaan baik.
Meskipun sinar matahari sangat terik dan menyengat, hal itu tidak menghalangi mereka sama sekali. Sebaliknya, di tengah cuaca yang melelahkan, semangat mereka justru semakin berkobar. Keringat yang bercucuran seolah menjadi bukti komitmen mereka dalam mengekspresikan aspirasi.

Dokumen Solopos: Petugas keamanan melakukan penghadangan di gerbang Kampus UMS.
7 Mei 1998: Bentrok Aksi Solidaritas
Selang satu hari kemudian, giliran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang beraksi. Sejak pagi, atmosfer di sekitar kampus Pabelan sudah mulai tegang, ketika ratusan mahasiswa mempersiapkan diri untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi mereka. Dengan semangat yang serupa seperti kampus-kampus lainnya, mereka berupaya keluar dari kawasan kampus untuk bergabung dalam aksi yang semakin meluas di Kota Solo.
Namun, langkah mereka nggak semulus yang dibayangkan. Di pintu masuk Kampus Pabelan, petugas keamanan sudah siap sedia dan menghalangi pergerakan para demonstran. Barisan aparat berdiri rapat, membentuk penghalang yang bikin mahasiswa tertahan di depan gerbang.
Bentrokan akhirnya tidak dapat dielakkan antara mahasiswa yang diorganisir oleh Solidaritas Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA) dan aparat keamanan. Keadaan yang awalnya tegang berubah menjadi kacau dengan cepat. Dorong-mendorong semakin intens, benda-benda mulai dilempar, dan gas air mata digunakan untuk membubarkan kerumunan.
Akibatnya cukup mengkhawatirkan. Setidaknya 52 mahasiswa terpapar gas air mata yang menyebabkan sesak napas dan kepanikan di tengah kerumunan. Di samping itu, 11 mahasiswa mengalami cedera akibat lemparan dari benda keras dalam situasi yang semakin tidak terkendali. Bahkan, dua di antara mereka terpaksa dibawa ke RS Islam Surakarta karena keadaannya yang serius dan memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Di sisi lain, aparat juga tidak lolos dari dampak bentrokan, sekitar 40 petugas dilaporkan menderita luka-luka akibat benturan yang keras di lapangan.

