Analisis wacana kritis atau sering dikenal dengan (CDA) bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai aspek, seperti ideologi, kekuasaan, dan lainnya dalam suatu wacana. Pada abad XXI pemanfaatan teknologi terus mengalami kemajuan dan perubahaan yang signifikan. Hal ini tentunya memengaruhi bagaimana media sosial sebagai platform utama di era digital ini menjadi salah satu fokus utama kajian analisis wacana. Berkaitan dengan media sosial, analisis wacana kritis memiliki peranan penting yakni sebagai penyedia alat analisis yang berharga guna memahami bagaimana ide dan nilai diungkapkan dan dipertahankan melalui bahasa dan representasi di internet. Hal ini dibuktikan seperti, analisis kritis terhadap platform Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok yang menyediakan pengetahuan terkait berbagai isu sosial yang terjadi, identitas dipertahankan atau dihilangkan, dan narasi diciptakan.
Penggunaan bahasa dan framing menjadi salah satu aspek penting dalam analisis kritis wacana di media sosial. Melalui analisis caption, tweet, atau postingan, peneliti mampu mengetahui bagaimana bahasa mampu mengungkapkan realita atau fakta yang sebenarnya terjadi. Misalnya, pada analisis wacana tekstual pada tweet dengan hashtag “JagaPapuaJagaNKRI” dalam konteks kenegaraan bertujuan untuk menyuarakan solidaritas, dukungan terhadap Papua dalam peningkatan kondisi sekitarnya, serta sebagai pengingat pentingnya keutuhan NKRI.
Berkaitan dengan analisis kontekstual di abad XXI tidak bisa lepas dari konteks sekitar. Hal ini dibuktikan dengan berbagai unggahan di media sosial yang mampu memberikan pemahaman lebih terkait isi dari suatu unggahan yang mampu diterima oleh masyarakat dan mampu menjadi salah satu bahan perbincangan masyarakat. Misalnya, dalam unggahan yang memperlihatkan salah satu tempat wisata pegunungan di Bandung. Unggahan tersebut mungkin memiliki arti yang berbeda. Contoh, pertama pada aspek pesan yang terkandung adalah menikmati suasana pegunungan alam di Bandung dengan tujuan membuat seseorang merasa tenang dan mampu menyegarkan pikiran seseorang. Kedua pada aspek sosial dan budaya, adanya pemandangan berupa pegunungan disertai dengan udara segar merujuk pada pegunungan dengan kualitas udara segar, bersih, sejuk, dan pastinya berbeda dengan udara di kota besar lainnya.
Oleh karena itu, analisis wacana kritis pada abad XXI bukan sekadar berfokus pada pembacaan teks yang menghasilkan makna secara tersurat saja. Akan tetapi, perlu mengetahui di mana teks tersebut muncul. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh tentang bagaimana media sosial memengaruhi opini publik, konstruksi identitas, dan kecenderungan ideologis. Mengingat hal ini, analisis wacana kritis menjadi salah satu alat guna memajukan dinamika dan ideologi dunia digital yang semakin kompleks.
Penulis: Efrida Qurotul A’yun dan Muhammad Rohmadi
